SBY: Arus Modal Jangka Pendek Harus Dikelola Hati-hati
Rabu, 16 Agu 2006 12:03 WIB
Jakarta - Arus modal yang bersifat jangka pendek telah membanjiri Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun mengingatkan agar dana itu dikelola dengan hati-hati dan bijaksana agar tidak menimbulkan gejolak bagi perekonomian.SBY menilai, dana-dana yang bersifat jangka pendek itu sangat rentan terhadap perubahan sentimen yang nantinya dapat menimbulkan gejolak perekonomian.Hal ini disampaikan SBY saat menyampaikan Pidato Kenegaraan dan Nota Keuangan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (16/8/2006).SBY menambahkan, dalam dua tahun terakhir dinamika pertumbuhan ekonomi global telah memberikan tantangan tidak ringan bagi pengelolaan ekonomi Indonesia. Beberapa dinamika itu antara lain adalah kecenderungan harga minyak yang tinggi dan penerapan kebijakan moneter ketat di sejumlah negara maju terutama di AS dan Uni Eropa berpengaruh terhadap perekonomian nasional."Koordinasi antara BI dan pemerintah di dalam pengelolaan kebijakan ekonomi makro telah semakin baik. Hal ini ditunjukkan oleh keberhasilan menjaga stabilitas ekonomi yang merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan," jelas SBY.Stabilitas ekonomi yang terjaga itu, lanjut SBY, telah meningkatkan kepercayaan pelaku pasar yang tercermin dalam masuknya investasi portofolio. Sehingga mendorong perbaikan neraca pembayaran dan penguatan cadangan devisa kita."Namun demikian, arus modal yang bersifat jangka pendek harus dikelola dengan hati-hati dan bijaksana karena rentan terhadap perubahan sentimen yang dapat menimbulkan gejolak perekonomian," kata SBY.Pemerintah dan BI berjanji akan terus berupaya untuk menyempurnakan kebijakan mekanisme, peraturan, instrumen serta kualitas institusi ekonomi dan industri keuangan, seperti tertuang dalam paket kebijakan reformasi sektor keuangan."Langkah ini diperlukan agar perekonomian kita makin memiliki kelenturan dan daya tahan terhadap gejolak dan ketidakpastian," ujar SBY.SBY menambahkan, langkah tersebut sejalan pula dengan upaya jangka menengah dan panjang untuk menciptaan investasi langsung yang sangat penting untuk menciptakan kesempatan kerja dan mengurangi kemiskinan serta memperkuat neraca modal dan candangan devisa.
(qom/)











































