Astra Incar Tambang Batubara
Sabtu, 09 Sep 2006 12:44 WIB
Bogor - PT Astra International Tbk berencana untuk masuk lagi ke bisnis pertambangan batu bara. Ekspansi ke pertambangan batu bara akan dilakukan melalui perseroan sendiri atau anak usaha Astra, PT United Tractors Tbk (UT)."Tahun lalu kita sudah canangkan untuk kembali ke mining, dulu kita punya Berau Coal tapi karena restrukturisasi utang UT kita jual, kita akan masuk lagi ke mining," kata Direktur Utama PT Astra International Michael D Ruslim dalam workshop wartawan di Hotel Novotel Bogor, Sabtu (9/9/2006).Sementara Direktur Keuangan UT Gidion Hasan mengatakan, saat ini perseroan tengah mencari perusahaan pertambangan batu bara yang bisa diakuisisi. Tidak tertutup kemungkinan perseroan akan membuka tambang batubara baru."Karena Astra mungkin kita mencari perusahaan tambang yang size-nya cukup besar atau kita ambil yang kecil-kecil tapi banyak," ujar Gidion.Kriteria tambang batubara yang diincar Astra adalah tambang dengan kualitas batubara diatas 6 ribu kalori dan lokasi tambang yang tidak terlalu jauh dari pelabuhan.Ketika ditanya minat Astra membeli KPC dan Arutmin yang saham minoritasnya akan dijual PT Bumi Resources, Gidion mengatakan pihaknya tidak begitu berminat. "Karena kurang jelas," ujarnya.Saat ini UT bergerak di bidang kontraktor pertambangan dan peralatan pertambangan. Klien utama bisnis kontraktor pertambangan UT melalui anak usahanya PT Pamapersada Nusantara yaitu KPC, Adaro, Indominco, PTBA dan Kideco.Dalam kesempatan yang sama, Gidion juga mengatakan bahwa pasar alat-alat berat pertambangan ditahun 2006 akan turun sekitar 20 persen. Konsekuensi penurunan tersebut adalah penjualan alat berat merek Komatsu yang didistribusikan UT diperkirakan juga turun menjadi 2.100 unit dibanding tahun lalu sebanyak 2.406 unit."Penurunan tersebut karena industri pertambangan saat ini sedang konsolidasi," ujarnya.Tahun lalu, kata Gidion, pasar alat berat pertambangan telah mencapai puncaknya dengan total penjualan sebanyak 3.360 unit. Tahun ini pasar industri alat berat pertambangan kurang agresf juga akibat kenaikan BBM tahun lalu yang mendongkrak biaya operasional. Tahun depan UT berencana menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 10 juta. Capex ini diluar capex anak perusahaannya Pamapersada.
(qom/)











































