Kasnic Pangkas Peringkat Obligasi Berlina
Selasa, 17 Okt 2006 10:20 WIB
Jakarta - Perusahaan pemeringkat, Kasnic Credit Rating Indonesia memangkas peringkat obligasi PT Berlina Tbk dari A (negative outlook) menjadi BBB+ (developing outlook).Obligasi tersebut adalah Obligasi I tahun 2004, untuk seri A senilai Rp 43 miliar, seri B senilai Rp 32 miliar dan Berlina Syariah Ijarah 2004 senilai Rp 85 miliar.Merosotnya peringkat obligasi ini sebagai akibat menurunnya tingkat profitabilitas dan kemampuan perseroan dalam pembayaran utang. Penurunan peringkat yang terjadi saat ini berdasarkan pada menurunnya pangsa pasar Berlina, melemahnya marjin profitabilitas akibat meningkatnya kompetisi di industri plastik, dan melemahnya arus kas operasi perusahaan. "Developing outlook mencerminkan risiko terkait dengan rencana manajemen untuk memasuki segmen baru dengan mengimplementasikan inovasi produk, perubahan bahan baku dan diversifikasi pelanggan," kata Analis Kasnic, Daniel Irawan dan Setyo Wijayanto dalam siaran pers, Selasa (17/10/2006).Berlina merupakan perusahaan kemasan dan plastik yang memiliki pelanggan tetap seperti PT Unilever Indonesia Tbk.Unilever merupakan pelanggan terbesar dari Berlina yang memberikan kontribusi pendapatan lebih dari 50 persen di tahun 2004. Namun melemahnya daya beli masyarakat di tahun 2005 akibat meningkatnya suku bunga, berakibat pada menurunnya penjualan Berlina ke Unilever sebesar 39,31 persen, dari semula Rp 145 miliar di tahun 2004 menjadi Rp 88 miliar di tahun 2005. Pada saat yang bersamaan terjadi kompetisi yang semakin ketat di industri kemasan sehingga nilai penjualan ke Unilever menjadi Rp 60 miliar di bulan Juni 2006 dan perusahaan membukukan kerugian sebesar Rp 2,02 miliar.Namun Kasnic melihat Berlina memiliki keunggulan dengan adanya anak perusahaan di Cina yang juga adalah preferred supplier ke Unilever Cina. Penjualan ke Unilever Cina pada periode Juni 2006 meningkat menjadi Rp 23 miliar, dari Rp 16 miliar di Juni 2005. Sejalan dengan menurunnya profitabilitas perusahaan, terjadi pula fluktuasi harga bahan baku akibat kenaikan harga minyak dan kesulitan perusahaan dalam menaikkan harga jual ke pelanggan. Akibatnya perseroan mengalami penurunan dalam kemampuan arus kas operasi perusahaan dalam membayar bunga selama periode 2004-Juni 2006. Pada bulan Juni 2006 perusahaan membukukan defisit arus kas sebesar Rp 9,78 miliar. Namun perusahaan memiliki kas yang relatif tinggi senilai Rp 90 miliar di akhir Juni 2006, sehingga rasio ending cash balance terhadap pembayaran bunga mencapai 2,97 kali.
(ir/ir)











































