Sampoerna Kinclong, Gudang Garam dan Bentoel Loyo
Rabu, 01 Nov 2006 09:30 WIB
Jakarta - Kinerja emiten rokok hingga triwulan III-2006 tidak seirama alias variatif. Hanya PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) yang mengalami pertumbuhan laba bersih.Sebaliknya PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA) justru mengalami penurunan laba bersih.Sampai triwulan III-2006, HMSP menunjukkan kinerja yang kinclong dengan pertumbuhan laba bersih 24,78 persen.Sementara GGRM dan Bentoel masing-masing mencatat penurunan laba bersih sebesar 41,18 persen dan 8,53 persen.SampoernaLaba bersih HMSP di triwulan ketiga 2006 mencapai Rp 3,001 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu Rp 2,405 triliun. Laba per saham juga tumbuh dari Rp 5459 per saham menjadi Rp 685 per saham.Peningkatan laba bersih ini didukung oleh meningkatnya penjualan sebesar 25,74 persen menjadi Rp 22,754 triliun.Peningkatan tersebut mendongkrak laba usaha perseroan sebesar 20,69 persen menjadi Rp 4,217 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu Rp 3,494 triliun.Gudang GaramSementara laba GGRM turun menjadi Rp 1,371 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,331 triliun. Meskipun penjualan GGRM naik 5,7 persen menjadi Rp 20,512 triliun, namun beban usaha turut meningkat 19,78 persen menjadi Rp 1,895 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,582 triliun.Hal tersebut membuat laba usaha tergerus menjadi Rp 1,812 triliun dibanding periode yang sama sebelumnya RP 2,561 triliun. Selain itu perusahaan juga mencatat rugi kurs sebesar Rp 6,929 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencatat laba kurs Rp 50,266 triliun. BentoelBentoel juga mencatat penurunan laba menjadi Rp 135,539 miliar dibanding periode yang sama sebelumnnya Rp 148,180 miliar Meski demikian penjualan perseroan menunjukkan kinerja yang relatif baik. Penjualan RMBA naik menjadi Rp 2,067 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar RP 1,237 triliun. Sedangkan laba usaha naik tajam 97,84 persen menjadi Rp 107,017 miliar.Penurunan laba diakibatkan adanya pendapatan dari penyelesaian utang perseroan tahun lalu sebesar Rp 135,135 miliar yang tidak tercatat tahun ini.
(ard/ir)











































