IHSG 2007 Bakal Melesat ke 2.000
Senin, 20 Nov 2006 16:40 WIB
Jakarta -
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tahun 2007 diprediksi bakal menembus level psikologis 2.000 karena membaiknya makro ekonomi.Kinerja emiten yang akan lebih baik juga akan memperkuat terjadinya bullish pasar saham."Kenaikan indeks akan lebih agresif lagi kalau proyek infrastruktur mulai jalan," kata Ekonom Bank Internasional Indonesia (BII) Ferry Latuhihin, dalam acara makco economic outlook 2007, di Hotel Century Atlit, Senayan, Jakarta, Senin (20/11/2006). Meski IHSG terus menunjukkan tren naik, Ferry mengingatkan, investor sebaiknya mengantisipasi kemungkinan terjadinya profit taking akhir tahun 2006 yang dilakukan oleh investor institusi."Investor institusi kemungkinan akan melakukan profit taking di akhir tahun untuk merealisasikan keuntungannya. Tapi secara jangka panjang tren indeks terus naik," kata Ferry.Saham yang diprediksi naik tahun depan adalah saham sektor perbankan, properti dan komoditas.Obligasi Kondisi yang sama juga akan terjadi di pasar obligasi, yang bakal semarak seiring dengan turunnya suku bunga. Turunnya suku bunga akan menjadikan produk perbankan kurang menarik sehingga investor akan melakukan diversifikasi termasuk ke obligasi.Ferry memprediksi, tahun depan suku bunga deposito bisa turun sampai 7 persen dan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 8 persen.RupiahSebaliknya pasar valas, menurut Ferry, akan mengalami tekanan karena penurunan tingkat suku bunga oleh BI.Turunnya bunga BI akan mempersempit jarak suku bunga dengan the Fed. Akibatnya cenderung terjadi capital outflow dan investor valas akan lebih memilih memegang mata uang hard currency seperti dolar AS. Rupiah tahun depan diprediksi akan berada pada kisaran 9.250-9.300 per dolar AS.Ferry memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun depan mencapai 7 persen jika proyek infrastruktur berjalan. Sebaliknya jika proyek ini tersendat pertumbuhan akan sekitar 6,2-6,3 persen.Namun Ferry yakin, proyek infrastruktur akan berjalan tahun depan dan inflasi mulai stabil di kisaran 6 persen karena alasan politis menjelang pemilu."Satu-satunya cara menarik simpati dengan menggerakkan proyek infrastruktur, itu bisa membantu masalah tenaga kerja dan meningkatkan daya beli," tutur Ferry.
(ir/ir)










































