Kinerja IHSG Paling Top di Asia
Selasa, 21 Nov 2006 12:11 WIB
Jakarta - Geliat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus menanjak hingga level 1.680 membuat pasar saham Indonesia menduduki peringkat pertama untuk pertumbuhan di Asia.IHSG mengungguli pasar saham Cina dan India. Sebelumnya Indonesia hanya bertengger di posisi ketiga setelah Cina dan India."Kalau dulu terbaik ketiga, saat ini mungkin terbaik di Asia di atas Cina dan India," kata Dirut Bursa Efek Jakarta (BEJ) Erry Firmansyah.Hal itu disampaikan Erry saat memberikan sambutan di acara Investor Day di Gedung BEJ, Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (21/11/2006).Namun Erry mengingatkan, meski kinerja IHSG paling top di Asia, masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus dibenahi otoritas bursa dalam menciptakan pasar yang efisien.Sebaliknya, Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Fuad Rahmany, justru mengaku cemas jika kenaikan IHSG terlalu cepat. Fuad menilai, kestabilan indeks lebih penting karena kenaikan yang terlampau cepat bisa berbalik arah seperti permainan Yo-Yo."Yang paling penting adalah kestabilan dari indeks, semua orang bilang di akhir tahun bisa 1.700, ngeri kalau terlalu cepat naik. Mudah-mudahan ada basic dari pertumbuhan indeks. It doesn't matter, cepat atau lambat yang penting stabil tidak seperti Yo-Yo," tutur Fuad.Menurutnya, pasar saham Indonesia masih harus menghadapi banyak tantangan, seperti market share sektor keuangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) kontribusinya masih rendah."Dibanding negara lain di ASEAN, market share kita hanya menang dari Filipina, kalau dengan Thailand, Malaysia dan Singapura masih kalah jauh. Kalau di tiga negara tersebut porsi sektor keuangan terhadap GDP di atas 200 persen, sementara di Indonesia cuma 120 persen," papar Fuad.Tantangan lain, lanjut Fuad, belum semua produk pasar modal berkembang khususnya di pasar obligasi."Kita harus melengkapi infrastuktur pasar supaya pasar lebih stabil dan memperdalam pasar. Sehingga kalau ada shock baik dari domestik maupun internasional dengan pasar yang lebih dalam, shock tersebut bisa diredam," jelas Fuad.
(ir/nrl)











































