Updated
Ical Minta Ketua Bapepam Tidak Asal Bicara
Rabu, 22 Nov 2006 14:30 WIB
Jakarta - Pemilik kelompok usaha Bakrie, Aburizal Bakrie, meminta Ketua Bapepam Fuad Rahmany tidak asal bicara soal penjualan Lapindo Brantas Inc ke Freehold Group. Ketua Bapepam diminta mengecek terlebih dahulu.Cetusan itu disampaikan oleh pria yang akrab disapa Ical itu menanggapi pernyataan Ketua Bapepam yang menilai penjualan Lapindo ke Freehold tidak layak."Itu haknya Ketua Bapepam untuk bicara. Jadi silakan beliau bicara begitu. Tapi seharusnya dicek terlebih dahulu, tidak asal bicara," cetus Ical di kantor Menko Kesra, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu (22/11/2006). Ical yang juga merupakan Menko Kesra ini mengaku bahwa yang paling penting bagi dirinya adalah masyarakat Sidoarjo tetap sejahtera dan pemegang saham minoritas bisa dilindungi.Ical juga mengakui bahwa siapa pun pembelinya, Lapindo tetap harus bertanggung jawab atas musibah lumpur di Sidoarjo itu. "Itu Lapindo yang tanggung jawab. Siapa pun pemilik saham Lapindo, buat pemerintah kesejahteraan rakyat penting. Jadi Lapindo yang bertanggung jawab. Tidak penting siapa pemilik sahamnya," tegas Ical.Menurutnya, soal tanggung jawab yang harus diemban Lapindo atas musibah lumpur itu sudah tertuang dalam Keppres. Kelompok usaha Bakrie melalui Minarak Labuan juga sudah menyatakan komitmen pendanaan untuk membantu penanganan musibah itu. Bagi yang tidak puas dengan pernyataan Ketua Bapepam, Ical mempersilakan untuk menempuh jalur hukum dan tidak melalui jalur politik. "Kalau ada ketidakpuasan (atas pernyataan Ketua Bapepam), maka ajukanlah secara hukum, tuntut secara perdata, kan ada kerugian materiil, imateriil dan nama baik. Dan saya sebagai Menko Kesra itu untuk selalu menegakkan hukum, tidak dibawa secara politis," ujarnya. Ical menambahkan, musibah lumpur ini tak hanya merugikan masyarakat, namun juga kelompok usaha Bakrie. PT Energi Mega Persada Tbk yang merupakan 'mantan' induk usaha Lapindo bahkan harga sahamnya terus turun dari Rp 800 menjadi hanya Rp 500."Atas kejadian ini, yang rugi adalah semuanya karena BPPT menyatakan bahwa itu bencana alam. Jadi masyarakat rugi, Lapindo juga rugi. Dulu sahamnya Rp 800 sekarang Rp 500," tandasnya.
(qom/nrl)











































