BI: Pelemahan Rupiah Sementara

Wawancara Aslim Tadjudin

BI: Pelemahan Rupiah Sementara

- detikFinance
Selasa, 19 Des 2006 13:46 WIB
Jakarta - Goncangan di pasar finansial Thailand ikut mengusik ketenangan nilai tukar rupiah. Namun Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan rupiah hanya akan bersifat sementara."Saya tidak melihat pengaruh yang signifikan. Saya kira pengaruhnya ke rupiah hanya sementara," tegas Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aslim Tadjudin dalam perbincangannya dengan detikcom, Selasa (19/12/2006).Pada awal perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah langsung terlontar ke level 9.110/9.115 per dolar AS akibat pengaruh melemahnya baht Thailand. Rupiah bahkan kini sudah terlontar ke level 9.135 per dolar AS.Baht Thailand terus melemah dipicu keluarnya aturan dari Bank Sentral Thailand yang mewajibkan 30 persen dari mata uang asing dengan nilai lebih dari US$ 20.000 harus didepositokan tanpa bunga. Kebijakan itu tidak berlaku untuk mata uang asing yang berhubungan dengan perdagangan barang atau jasa.Usai pengumuman tersebut, baht langsung merosot tajam ke level 35,82 dolar, dari level tertinggi dalam 9 tahun yang dicetak pada awal perdagangan di 35,06 dolar. Di akhir penutupan perdagangan Senin, 18 Desember, baht akhirnya ditutup ke level 35,23 dolar. Sepanjang tahun 2006, baht telah menguat hingga 17 persen terhadap dolar AS di tengah aksi kudeta yang sempat mewarnai perjalanan politik di Thailand. Penguatan itu di atas rata-rata mata uang regional lainnya.Aslim mengakui bahwa pasar finansial Indonesia sempat ikut panik di awal-awal perdagangan. Menurutnya, hal itu wajar saja. Namun setelah menyadari pengaruhnya tidak besar, Aslim meyakini pasar finansial akan pulih."Yang melakukan aturan reserve requirement kan hanya Thailand. Walaupun ada pelemahan, itu sementara karena pasar belum jelas benar aturan itu sendiri," tambahnya.Aslim pun membenarkan kebijakan yang dikeluarkan Bank Sentral Thailand, dan dianggap sudah sesuai dengan kondisi Thailand yang tengah menghadapi penguatan baht yang cukup tajam. "Mereka sedang menghadapi apresiasi baht yang sangat tinggi hingga 17 persen karena short term capital," jelasnya. (qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads