Saham Jeblok, Menneg BUMN akan Panggil Direksi PGN
Jumat, 12 Jan 2007 15:13 WIB
Jakarta - Meluncurnya saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) membuat pening Menneg BUMN Sugiharto. Alasannya, penurunan saham PGN ini menyeret saham pemerintah lainnya ikut terpuruk.Pada perdagangan saham sesi II pukul 14.55 JATS, Jumat (12/1/2007), saham PGN terpuruk Rp 2.250 (23,32%) menjadi Rp 7.400 per saham. Saham BUMN lain pun akhirnya ikut anjlok seperti Telkom, Bank Mandiri, BRI, Timah dan lainnya. Saham milik pemerintah yang sudah melantai di Bursa Efek Jakarta (BEJ) sebanyak 13 BUMN.Menurut Sugiharto, anjloknya saham PGN dipicu mundurnya jadwal komersialisasi gas dari Sumatera Selatan ke pelanggan industri di Jawa Barat (South Sumatra - West Java/SSWJ) dari semula akhir Desember 2006 menjadi Maret 2007. "Saya dengar hujan dan badai membuat ada keterlambatan di lapangan. Jadi itu masalah teknis untuk diberikan penjelasan oleh direksi," kata Sugiharto di Kantor Kementerian BUMN, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Jumat (12/1/2007).Sugiharto menekankan agar manajemen PGN memberikan informasi yang transparan kepada publik. "Direksi PGN akan saya panggil karena saya ingin dapat kejelasan karena kalau saham PGN turun yang dirugikan adalah valuasi saham pemerintah. Tapi saya memanggil tidak dalam konteks itu, tapi dalam konteks pembangunan infrastruktur," jelas Sugiharto.Senada dengan Sugiharto, Ketua Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Fuad Rahmany meminta manajamen PGN untuk memberikan penjelasan yang sebenarnya kepada publik.Pasalnya, ungkap Fuad, ada rumor komersialisasi gas PGN ditunda hingga enam bulan padahal manajemen mengatakan 2 bulan. "Kami minta pada PGN untuk segera melakukan penjelasan lewat BEJ supaya jelas, ini kan rumor," kata Fuad.Diakui Fuad, anjloknya saham PGN telah membuat saham milik pemerintah ikut terhanyut. "Jadi indeks jatuh karena satu ini saja (PGN), mereka keluar dari PGN dan semua yang berkaitan dengan PGN. Akibatnya Telkom kena, Mandiri kena dan BRI kena, contohnya di Thailand masalah satu grup kena semua," tutur Fuad.
(ir/qom)











































