Saham PGN Sulit Balik ke Posisi Tertinggi
Selasa, 16 Jan 2007 15:06 WIB
Jakarta - Saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) diprediksi bakal sulit mencapai kembali level tertingginya di tahun ini Rp 11.700 per saham. Penyebabnya bukan lagi karena mundurnya jadwal pipanisasi Sumsel-Jabar, tapi lebih karena faktor eksternal.Faktor ekternal tersebut adalah turunnya harga minyak dunia di bawah US$ 55 per barel yang kemungkinan akan diikuti turunnya harga gas dunia. Selain itu, investor menilai secara teknikal saham PGN sudah terlalu tinggi."Saya pikir tidak akan capai Rp 11 ribu lagi, harga PGAS itu naik karena ekspektasi harga gas naik, minyak mahal, dan sekarang minyak murah optmisme gas akan redup," kata pengamat pasar saham, Edwin Sinaga, ketika dihubungi detikcom, di Jakarta, Selasa (16/1/2007).Saham PGN mengalami tekanan jual besar-besaran pada Jumat pekan lalu (12/1/2007) karena sentimen negatif mundurnya jadwal pipanisasi. Saham PGN ketika itu anjlok hingga 23,32 persen ke level Rp 7.400.Otoritas bursa juga sempat menghentikan perdagangan saham PGN pada Senin kemarin (15/1/2007). Namun ketika suspensi sahamnya dicabut hari ini, saham pelat merah ini langsung melejit lagi. Pada perdagangan saham pukul 15.05 JATS, Selasa (16/1/2007) saham PGN dengan kode perdagangan PGAS naik Rp 1.100 menjadi Rp 8.500 per saham.Edwin menilai, kenaikan harga saham PGN hari ini masih dalam batas wajar. Karena investor berpikir bahwa saat ini harga saham PGN terasa murah, dibanding pencapaian level tertingginya.Investor juga melihat PGN tidak memiliki masalah fundamental, hanya sekedar masalah teknis."Orang masih berspekulasi dan berharap akan ada kenaikan harga, ini secara teknikal dan orang tidak melihat bukan karena masalah fundamental," ujar Edwin.Edwin memrediksi kalau pun saham PGN akan terus naik, maksimal hanya akan mencapai level Rp 8.700-an per sahamnya. Edwin juga menambahkan, masalah keterbukaan informasi terlambatnya jadwal pipanisasi perlu diselidiki lebih lanjut apakah disengaja atau diluar kemampuan manajemen."Investor inginnya ada transparansi dan untuk kasus itu perlu investigasi," ujar Edwin. Edwin mengakui, sebelum mencuatnya masalah mundurnya jadwal pipanisasi, saham PGN terus meroket karena ekspektasi investor terhadap tingginya harga minyak tahun lalu.
(hdi/ir)











































