Yen Tak Lagi Jadi Panutan
Jumat, 19 Jan 2007 17:03 WIB
Jakarta - Pelemahan mata uang yen menyusul keputusan Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) menahan suku bunganya ternyata tidak menular ke mata uang regional lainnya. Yen kini tak lagi menjadi panutan pergerakan mata uang regional."Saya kira sekarang sudah ada semacam dekapling, kalau dulu seakan-akan Jepang itu lokomotif, jadi kalau yen menguat mata uang regional Asia ikut di situ. Waktu beberapa terakhir ini tidak begitu," kata Deputi Gubernur BI Aslim Tadjudin di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (19/1/2007).Aslim pun memberikan fakta, yakni di saat yen melemah atas dolar AS hingga level 121, nilai tukar rupiah tetap stabil di level 9.090 per dolar AS. Pada perdagangan hari ini, rupiah ditutup menguat ke level 9.070 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.098 per dolar AS."Jadi jelas tidak mengikuti (yen). Kita lihat juga won Korsel tetap disitu, bahkan menguat. Kalau dulu betul bahwa kemana arah yen itu berada, maka mata uang Asia lainnya akan ikut disitu. Tapi sekarang sudah melepaskan diri," urainya.Menurut Aslim, mayoritas mata uang Asia kini bergerak berdasarkan fundamental perekonomian masing-masing negara. "Kalau fundamental ekonomi bagus, jelas mata uang akan menguat," tambahnya.Aslim menambahkan, pergerakan mata uang memang akan dipengaruhi oleh faktor non ekonomi seperti psikologis, teknis dalam jangka pendek. "Namun kurs ini lebih ditentukan jangka panjangnya oleh faktor fundamental," tandasnya.Berarti Rupiah kecenderungannya menguat di tahun ini? "Kalau saya lihat demikian, di 2007 ini sepanjang kita bisa perbaki, terus mempertahankan kondisi makro kita dampaknya pada rupiah akan stabil dan menguat," kata Aslim.
(qom/ir)











































