Menkeu Thailand Kejutkan Pasar
Selasa, 23 Jan 2007 15:04 WIB
Bangkok - Menteri Keuangan Thailand Pridiyathorn Devakula membuat pengumuman yang mengejutkan pasar dan kembali membuat pasar saham babak belur.Pridiyathorn membuat pernyataan yang mengejutkan dengan menyatakan bahwa aturan capital control Thailand memberi dampak yang baik yakni membantu para eksportir dan menstabilkan baht."Berdasarkan analisis kami, 30 persen cadangan yang ditahan telah membuat sektor ekspor untuk bertahan dan baht kini berada di posisi 36 per satu dolar, yang berarti baik," ujarnya.Pernyataan itu disampaikan Pridiyathon setelah keluarnya studi dari Kadin Jepang yang menyatakan 1.200 bisnis Jepang di Thailand memprihatinkan aturan baru itu karena meningkatnya berbagai biaya."Saya telah bertemu dengan para investor Jepang yang telah memberi jaminan kepada saya bahwa mereka tidak akan pergi dan akan mempertahankan investasi mereka disini," ujar Pridiyathorn seperti dikutip dari AFP, Selasa (23/1/2007).Dalam aturan capital control yang dirilis pertengahan Desember 2006 lalu, Bank Sentral Thailand menetapkan setiap dana asing yang ada di Thailand dan tidak ada hubungan langsung dengan perdagangan harus ditahan sebesar 30 persen. Kebijakan itu diambil menyusul penguatan baht yang terlalu cepat. Namun kebijakan itu malah menghancurleburkan pasar finansial Thailand. Bank Sentral Thailand pun merevisi aturan tersebut dengan mengecualikan aturan itu di pasar saham.Para investor tetap berharap Bank Sentral Thailand mengubah keputusan tersebut. Namun pengumuman Menkeu Thailand tersebut tampaknya kian mengukuhkan persepsi bahwa kebijakan capital control itu tidak akan diubah. Indeks saham di Bursa Saham Thailand pun langsung anjlok hingga 1 persen pada sesi pagi.Industri untuk ekspor saat ini menyumbang 60 persen dari total output ekonomi Thailand."Sektor yang benar-benar menarik investasi langsung adalah ekspor. Dari dua tipe investasi, yakni investasi membangun pabrik di Thailand atau melalui pasar saham Thailand. Dari dua tipe itu, kami cenderung memilih yang pertama," ujar Pridiyathorn.
(qom/ir)











































