BEJ Alihkan Saluran Telpon, Transaksi Saham Tetap Normal
Senin, 05 Feb 2007 11:55 WIB
Jakarta - Perdagangan dan transaksi di Bursa Efek Jakarta (BEJ) tetap berlangsung normal. Namun karena ada gangguan jaringan telpon dari Telkom, BEJ mengalihkan saluran telponnya.Menurut Kepala Divisi Komunikasi BEJ Friderica Widyasari, BEJ telah melakukan sosialisasi untuk nomor telpon baru BEJ ini. "Penggantian nomor telepon ini karena terganggunya jaringan telepon," kata Kiki.Nomor telepon baru untuk hotline BEJ antara lain 98479513 dan 08888391181 untuk perdagangan, 98497514 dan 0888391181 untuk remote trading. Sementara nomor telepon komunikasi perusahaan adalah 9909922151. Saluran telekomunikasi BEJ terganggu setelah Sentral Telepon Otomat di Semanggi milik PT Telkom terendam. Dari pengamatan detikFinance, pedagang lantai bursa tetap melaksanakan aktivitas seperti biasa. Sementara jaringan telepon dan layanan bank di BEJ seperti outlet dan ATM belum pulih.Namun BEJ tidak akan dihentikan dan akan berlangsung seperti biasa walaupun jaringan telekomunikasi PT Telkom belum normal. "Perdagangan hari tetap normal," ujar Direktur Perdagangan BEJ HM Sembiring saat dihubungi.Sembiring mengatakan banjir yang melanda Jakarta belum dikategorikan force majeur yang signifikan. Menurutnya BEJ bisa saja menghentikan perdagangan jika ada force majeur yang signifikan. "Tapi sekarang belum," ujarnya. Pada Jumat (2/2/2007) akhir pekan lalu, Sejumlah pelaku pasar terutama dari kalangan fund manager mengeluhkan susahnya melakukan transaksi di BEJ karena rusaknya jaringan telekomunikasi akibat banjir. Presiden Direktur Fortis Investment dalam pesan singkatnya kepada detikFinance mengatakan, transaksi sempat terganggu namun kembali dapat diatasi. Hal serupa juga diutarakan salah satu direktur fund manager asing yang tidak mau disebut namanya. Menurutnya BEJ sebaiknya menghentikan perdagangan karena sulitnya melakukan transaksi. Ia juga mengatakan tidak semua fund manager dan dana pensiun memiliki fasilitas remote trading sehingga kesempatan bertransaksi tidak sama dimiliki pelaku pasar. "Banjir ini kan bisa dibilang force majeur, bursa Hongkong saja berani menghentikan perdagangan ketika taifun," katanya.
(ard/qom)











































