Saham Telkom 'Rehat' Sejenak
Senin, 05 Feb 2007 14:46 WIB
Jakarta - Investor mulai menyeleksi saham-saham yang pantas dikoleksi terkait dengan bencana banjir yang melanda pusat ekonomi Jakarta. Saham Telkom mulai diistirahatkan karena emiten paling besar ini tertimpa dampak langsung dari musibah banjir.Telkom mengalami kerusakan jaringan karena STO (sentral telepon otomat) di Gatot Subroto tenggelam dan banyaknya Base Tranceiver Station (BTS) yang terganggu.Saham Telkom pada perdagangan pukul 14.30 JATS, Senin (5/2/2007) tidak bergerak di level Rp 9.550.Analis saham dari Kresna Securities Adrian Rusmana ketika dihubungi detikFinance mengatakan, banjir Jakarta akan berdampak terhadap seleksi saham pelaku pasar. Sektor industri yang paling banyak terkena dampak adalah sektor telekomunikasi dan retail, akibat banyaknya jaringan yang rusak dan berkurangnya konsumsi terhadap barang-barang retail.Sementara Analis dari Sinarmas Securities Alfiansyah mengatakan, pelaku pasar masih melihat penanganan banjir dan pascabanjir dari pemerintah dan perusahaan sebagai acuan untuk mengumpulkan atau menjual saham."Pelaku pasar mulai mengurangi aktivitasnya, pelaku pasar juga cenderungmelakukan profit taking untuk mengurangi risiko akibat dampak banjir," kata Alfiansyah saat dihubungi detikFinance, Senin (5/2/2007). Alfiansyah juga mengatakan, banjir mengganggu distribusi dan pasokan barang ke Jakarta yang akibatnya bisa mendongkrak harga-harga dan memicu inflasi. Ekspektasi kenaikan inflasi tersebut akan berimbas terhadap suku bunga."Diperkirakan BI tidak akan menurunkan suku bunga dalam RDG Selasa besok (6/2/2007) karena ekspektasi inflasi bulan ini yang naik," ujarnya.Sementara Adrian menilai, emiten makanan seperti PT Unilever Tbk, PT Indofood Tbk dan produsen bahan bangunan seperti PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, PT Semen Gresik Tbk dan PT Holcim Indonesia Tbk, bisa memanfaatkan momen meningkatnya permintaan terhadap produk makanan dan semen.Adrian juga mengatakan sektor pertambangan dan perkebunan tidak terpengaruh banjir karena produksinya yang jauh di luar Jakarta.
(ir/qom)











































