Pasar Finansial Jeblok, Menko dan Menkeu Tenang
Rabu, 28 Feb 2007 16:21 WIB
Jakarta -
Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah tidak lantas membut Menko Perekonomian Boediono dan Menkeu Sri Mulyani panik. Kedua anggota tim ekonomi kabinet itu tetap tenang."Itu gerakan di seluruh dunia. Itu karena kemarin Cina anjlok cukup besar hingga 10 persen, dan Hong Kong, kalau Hong Kong ya jelas karena itu ekornya Cina, semua kena," ujar Boediono di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (28/2/2007).Menurut Boediono, semua negara didunia merasakan dampak merosotnya pasar finansial Cina. Namun ia menilai dampak yang diterima Indonesia masih dalam batas yang bisa ditolerir."Semua negara juga kena, jadi tidak ada yang salah disini asalkan kita tetap pada kebijakan yang kita lakukan sampai saat ini cukup baik," ujarnya.Boediono berharap penurunan di pasar finansial itu hanya berlangsung sementara. Panic selling yang melanda pasar lebih diakibatkan sentimen negatif dari luar."Jadi ini sentimen global ya saya kira begitu. Cina itu ekonomi yang sudah kepanasan yang perlu penyesuaian dan mungkin ini salah satu langkah atau kejadian untuk mendinginkan ekonomi mereka," ujarnya.Pemerintah tetap akan mempertahankan kebijakan ekonomi yang sudah diambil. Tidak ada yang salah dengan kebijakan ekonomi pemerintah. "Dari kita sementara kita tetap pada apa yang kita lakukan," ujarnya.Hal senada disampaikan Menkeu Sri Mulyani yang juga tidak terlalu ambil pusing dengan jatuhnya indeks. Namun demikian, pemerintah tetap akan waspada menghadapi isu regional. Soalnya dari dalam negeri belum ada isu yang bisa menggoyang pasar."Kita akan terus waspada, tapi kalau faktor-faktor isu fundamental yg berhubungan dengan korporasi maupun pasar modal yang memang substansi tidak ada dari dalam negeri, mungkin kita tidak terlalu menjadi sangat khawatir. Oleh karena itu kita perbaiki saja. Rasanya sih isu-isu di dalam negeri tidak ada yang cukup," ujarnya.
(ddn/qom)










































