Alasan Tak Kuat, BEJ Nggak Ikhlas Mulialand Go Private
Selasa, 10 Apr 2007 19:15 WIB
Jakarta - Bursa Efek Jakarta (BEJ) menilai alasan PT Mulialand Tbk untuk 'keluar' dari bursa dan menjadi perusahaan tertutup kurang kuat. Pemilik Plasa 89 ini ingin go private hanya didasari kekhawatiran terhadap kinerja keuangan yang akan merosot karena persaingan bisnis yang cukup ketat."Kita sayangkan sekali rencanya Mulialand untuk go private, terlebih alasannya tidak cukup mendukung," kata Direktur Pencatatan BEJ Eddy Sugito ketika dihubungi wartawan, Selasa (10/4/2007).Menurutnya, banyak emiten lainnya yang pernah mengalami masa krisis. Namun, karena usahanya yang keras akhirnya bisa bangkit kembali tanpa harus keluar dari bursa."Contohnya Astra, ketika krisis emiten itu sangat jatuh usahanya. Tetapi karena kerja keras, saat ini Astra sudah bisa berdiri tegak dan menuai keuntungan. Dan saya kira masih banyak emiten lain yang mengalami hal serupa," ujar dia.Eddy mengatakan, BEJ sudah meminta agar perseroan mempertimbangkan kembali rencana go private-nya. Namun, Mulialand tetap bersikukuh untuk melakukan go private. Kendati demikian, BEJ tidak akan memaksakan kehendaknya terhadap keinginan emiten tersebut. Namun BEJ meminta mekanisme go private dipatuhi Mulialand untuk melindungi kepentingan pemegang saham minoritas."Keputusan ada ditangan emiten. Kita sih inginnya mereka tidak go private," ujarnya.Eddy menambahkan, banyaknya emiten yang melakukan go private bukan hal yang buruk bagi bursa, terlebih kondisi pasar modal Indonesia sedang bullish. Menurutnya, saat ini kendala utama di pasar modal Indonesia adalah tidak adanya intensif yang diberikan kepada perusahaan yang go public. "Insentif pajak sangat membantu mendorong perusahaan untuk go public, untuk itu pemerintah harus ikut mendorong hal ini," tambahnya.Mulialand MinderDirektur Mulialand Harianto Muljohardjo dalam penjelasannya kepada BEJ mengatakan, rencana go private perseroan telah diberitahu ke BEJ pada 30 Maret 2007. Harianto mengungkapkan, alasan perseroan melakukan go private diantaranya kelebihan pasokan ruang pada tahun ini yang mempengaruhi persaingan. "Kelebihan jumlah pasokan ruang perkantoran dapat mengakibatkan peningkatan persaingan usaha sehingga dapat mengakibatkan terjadinya penurunan harga sewa rata-rata yang dapat mengancam kelangsungan usaha perseroan," jelas Harianto.Alasan lainnya adalah peningkatan biaya operasional yang sangat signifikan melebihi kenaikan pendapatan usaha perseroan dan alasan terakhir yakni lemahnya kinerja keuangan dan prosepek usaha yang menurun akan membuat likuditas saham perseroan juga menurun. "Dengan alasan itu, perseroan melakukan go private untuk membantu pemegang saham agar tidak semakin terbebani dengan penurunan harga saham," tambahnya.Harianto mengungkapkan PT Muliamustika Tataindah selaku pemegang saham pendiri perseroan telah menyatakan bersedia membeli saham yang dimiliki investor public melalui penawaran tender (tender offer). Harga saham yang ditawarkan pemegang saham pendiri sebesar Rp1.450. "Harga penawaran telah melebihi kriteria harga saham yang telah ditentukan dalam aturan BEJ maupun Bapepam," jelas dia.
(ard/qom)











































