RI Belum Perlu Bursa Tambang
Kamis, 12 Apr 2007 13:47 WIB
Jakarta - Indonesia belum memerlukan bursa khusus tambang layaknya London Metal Exchange (LME). Mengingat standar pertambangan dunia sama, maka sebaiknya acuan tetap ke LME.Hal tersebut disampaikan Dirut Antam, Deddy Aditya Sumanegara di sela-sela Indonesia Business BUMN Forum and Exhibition (IBEX) di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (12/4/2007). "Kan bursa metal sudah ada seperti LME. Jadi bursa lokal untuk apa? Karena komoditas metal market-nya global. Jadi standarnya juga global. Dari LME saja sudah cukup. Karena kan pembeli semuanya dari internasional dan mengacu ke sana (LME)," jelas Deddy.Menurut Deddy, jika Indonesia membuat bursa tambang untuk acuan sendiri, sementara pembeli mengacu ke LME, maka justru tidak akan ketemu.Usulan bursa khusus tambang ini disampaikan oleh Dirjen Minerbapabum DESDM, Simon Sembiring. Menurutnya, sudah saatnya Indonesia punya bursa hasil tambang seperti nikel, bauksit, timah, batubara, dan lain-lain. Selama ini, bursa khusus hasil tambang justru ada di negara-negara yang tidak memproduksi bahan tambang tersebut. Deddy sendiri mengaku belum pernah mendengar ada bursa tambang lokal. Hal berbeda disampaikan Corporate Secretary PT Timah Tbk Prasetyo yang mengaku sudah mendengar rencana tersebut."Sudah ada pembicaraan dengan Departemen ESDM. Tapi kami belum tahu bagaimana bentuknya seperti apa. Belum ada gambaran," ujar Prasetyo.Kontrak Emas Antam-BBJMengenai kontrak emas Aneka Tambang dengan Bursa Berjangka Jakarta (BBJ), Deddy mengatakan bahwa hingga saat ini belum terealisir karena masih dikaji risikonya. "Itu melibatkan uang yang besar. Jadi dampaknya masih dikaji terhadap perusahaan seperti apa," tandasnya.
(qom/ir)











































