BI Kendor, Rupiah Ngacir

Tembus 8.800/US$

BI Kendor, Rupiah Ngacir

- detikFinance
Senin, 07 Mei 2007 11:11 WIB
Jakarta - Transaksi pasar valas kembali bersemangat setelah rupiah tembus 8.800-an per dolar AS. Sikap Bank Indonesia (BI) yang mulai melonggarkan pengawalannya membuat rupiah melesak ke level terkuatnya dalam 12 bulan terakhirnya.Sementara nilai tukar rupiah sejak delapan bulan terakhir selalu dikawal Bank Indonesia (BI) di kisaran 9.000-9.100-an per dolar AS. Pada perdagangan valas pukul 10.58 WIB, Senin (7/5/2007) rupiah ada di posisi 8.872 per dolar AS, menguat 76 poin dibandingkan Jumat pekan lalu (4/5/2007). Prestasi rupiah ini dinilai pengamat pasar valas Farial Anwar, karena BI sudah mulai melonggarkan penjagaannya. Selain karena memang jumlah modal yang masuk ke dalam negeri terus mengalir."BI sudah capek dikritik dan diprotes akhirnya didengar juga, karena saya juga merasa rupiah seharusnya menguat karena tidak ada manfaatnya juga ditahan-tahan," ujar Farial ketika dihubungi detikFinance via telepon, Jakarta, Senin (7/5/2007).BI sendiri beralasan penjagaan terhadap nilai tukar rupiah untuk menjaga kenyamanan nilai ekspor. Namun menurut Farial, kenyamanan yang diberikan tersebut sesungguhnya tidak memberikan kontribusi banyak terhadap perekonomian secara keseluruhan.Dilanjutkannya, jika ada alasan lain yaitu nilai tukar rupiah yang menguat akan membuat barang-barang impor masuk dan menggangu produk dalam negeri, hal tersebut bukanlah alasan yang tepat karena barang-barang impor selalu masuk dalam jumlah besar baik legal maupun ilegal."Kita ini jaga tidak dijaga, barang impor tetap menyerbu terutama dari Cina secara ilegal," urai Farial.Farial memrediksi nilai tukar rupiah pada hari ini akan tetap bergerak di level Rp 8.000-an dan tidak kembali pada level Rp 9.000 per dolar AS."Mungkin Rp 8.850-8.900, kan volatilitasnya lumayan besar. Saya merasa di Rp 8.800-an itu level yang sangat wajar, kalau lebih dari 2 persen pun seperti yang dibilang BI ya tidak jauh-jauh," kata Farial.Faktor lain yang membuat rupiah melejit hari ini karena investor mengantisipasi Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 8 Mei 2007. BI diperkirakan akan memangkas BI Rate setelah deflasi pada bulan April sebesar 0,16 persen. Penurunan BI Rate akan memicu banjir dana di pasar modal terutama pembelian obligasi. (hdi/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads