Sampoerna Agro Tawarkan Harga Saham Rp 1.900-2.400

Sampoerna Agro Tawarkan Harga Saham Rp 1.900-2.400

- detikFinance
Selasa, 22 Mei 2007 13:34 WIB
Jakarta - Perusahaan perkebunan PT Sampoerna Agro Tbk, milik Keluarga Putera Sampoerna, melepas 24,4 persen sahamnya kepada publik. Harga yang ditawarkan Rp 1.900 sampai Rp 2.400 per saham.Dengan melepas 24,4 persen saham atau setara dengan 461,35 juta saham, maka Sampoerna Agro akan meraup dana IPO sekitar Rp 876,565 miliar sampai Rp 1,107 triliun. "Dana tersebut akan digunakan untuk refinancing utang, ekspansi dan modal kerja," kata Dirut Sampoerna Agro, Allan Goh Cheng Beng, dalam paparan publik IPO di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta, Selasa (22/5/2007).Dana hasil IPO sebesar 40 persen untuk refinancing utang senilai US$ 100 juta ke Credit Suisse dan US$ 20 juta ke Bank Central Asia (BCA). Kekurangan dana untuk refinancing akan ditambah dari kas internal. Sedangkan 35 persen hasil dana IPO akan digunakan untuk ekspansi usaha dan 5 persen lagi untuk modal kerja.Vice President Investment Banking PT Danareksa Sekuritas Marciano Herman, selaku penjamin emisi mengatakan, harga yang ditawarkan di kisaran Rp 1.900-Rp 2.400 memang jauh lebih tinggi dari nominal Rp 200. Namun menurutnya harga saham Sampoerna Agro masih wajar.Ditambahkannya, EP (earning price) Ebitda industri perkebunan saat ini berada di posisi 14 kali, sehingga harga tersebut tidak kemahalan.Rencananya dengan dana IPO tersebut juga akan digunakan untuk pembiayaan capex perseroan Rp 1 triliun dalam 3 tahun kedepan.Dana itu akan digunakan untuk menambah luas perkebunan sebanyak 46 ribu hektar dalam waktu 3 tahun. Saat ini total lahan yang dimiliki sebanyak 170 ribu hektar dan area penanaman 74 ribu hektar."Tahun ini kita akan menambah luas area penanaman sebanyak 8.400 hektar," kata Direktur Sampoerna Agro Yasin Chandra. Tahun ini produksi tandan buah segar (TBS) tidak berbeda jauh dari tahun 2006 yang sebesar 1,1 juta ton.Masa penawaran saham ini dilakukan pada 11-13 Juni 2007 dan pencatatan di Bursa Efek Jakarta (BEJ) 18 Juni 2007.Analis saham Edwin Sinaga melihat harga saham tersebut bisa dilihat wajar jika mengacu dari EP Ebitda. Tapi juga bisa menjadi tidak wajar dilihat dari kinerja atau luas lahan yang dimiliki. "Jadi dibandingkan dulu dengan luas lahan yang dimiliki kompetitor berapa dan yang ditanam serta luas lahan yang dimiliki," kata Edwin. (ir/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads