Pasar modal Amerika Serikat (AS) kembali bergairah. Deretan indeks utama Wall Street kembali menguat dalam perdagangan Rabu setelah Presiden AS Donald Trump menunda tarif impor tinggi ke sejumlah negara.
Pengumuman Trump soal jeda tarif 90 hari untuk banyak negara diumumkan setelah berhari-hari terjadi gejolak pasar. Harga obligasi dan nilai tukar dolar AS sempat dijual lebih rendah karena kekhawatiran rencana pemerintah untuk menaikkan tarif impor akan mendorong ekonomi ke dalam resesi.
Dikutip dari Reuters, Kamis (10/4/2025), indeks S&P 500 mencatat kenaikan terbesarnya sejak 2008, S&P 500 ditutup 9,5% lebih tinggi. Sementara Nasdaq naik 12,2% dalam kenaikan satu hari terbesarnya sejak 3 Januari 2001.
Kemudian Dow Jones melonjak hampir 3.000 poin atau 7,87%. Menjadi hari terbaik perdagangan dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Menyusul kenaikan yang terjadi di pasar saham, imbal hasil obligasi AS 10 tahun naik 6,8 basis poin menjadi 4,328%. Sebelumnya mencapai 4,515%, tertinggi sejak 20 Februari.
Meski begitu, investor mengatakan ketidakpastian tentang rencana tarif jangka panjang masih ada. Pelemahan pasar masih saja bisa terjadi.
"Ketidakpastian tetap membayangi apa yang terjadi setelah periode 90 hari, membuat investor harus bergulat dengan potensi volatilitas di masa mendatang," tulis analisa Gina Bolvin, Presiden Bolvin Wealth Management Group di Boston.
(hal/ara)