Yield AS Melonjak
Bursa Asia Terseret Wall Street
Jumat, 08 Jun 2007 11:07 WIB
Jakarta - Bursa-bursa regional pada akhir pekan ini langsung rontok mengikuti anjloknya bursa Wall Street. Anjloknya Wall Street merupakan imbas dari lonjakan yield dari obligasi negara AS berjangka waktu 10 tahun.Pada perdagangan Kamis (7/6/2007) kemarin, yield obligasi tersebut mengalami lonjakan terbesar di sepanjang sejarah. Lonjakan yield yang dramatis itu memicu ekspektasi bakal panjangnya periode suku bunga yang tinggi.Dampaknya, biaya pinjaman perusahaan akan meningkat dan pada akhirnya berpengaruh pada pasar saham. Indeks Dow Jones Industrial Average tercatat turun hingga 198,94 poin (1,48%) menjadi 13.266,73. Nasdaq juga turun 45,80 poin (1,77%) ke level 2.541,38, sementara Standard & Poor's 500 turun 26,66 poin (1,76%) ke level 1.490,72."Sangat jelas bahwa masalah di pasar saham ini berhubungan dengan suku bunga. Sepekan lalu, persepsi utama adalah The Fed tidak akan mengubah suku bunganya lagi. Namun persepsi sekarang adalah, The Fed kemungkinan akan menaikkan suku bunganya lagi beberapa kali pada tahun ini," ujar analis dari Illington Advisor, Hugh Johnson seperti dikutip dari AFP, Jumat (8/6/2007)."Saham perlu merefleksikan apa yang dikatakan oleh yield obligasi," ujar manajer portofolio dari SterlingStamos, Michael Kastner seperti dikutip dari Financial Times. Pelemahan Wall Street langsung menyeret bursa regional. Pada perdagangan hari ini, Jumat (8/6/2007), indeks Hang Seng dibuka turun 268,31 poin di level 20.531,85 atau turun 1,29 persen. Sementara Bursa Tokyo anjlok 296,59 poin di level 17.756,79 atau turun 1,64 persen."Pasar dibuka dengan penurunan tajam setelah penurunan di Wall Street karena kekhawatiran peningkatan suku bunga," kata Investment Manager Tanrich Securities Hongkong Jackson Wong seperti dikutip dari kantor berita AFP.Hal serupa juga menimpa IHSG Bursa Efek Jakarta yang melorot 32,804 poin ke level 2.061,007 atau turun 1,57 persen di awal perdagangan sesi I hari ini.Antisipasi kenaikan suku bunga global juga menyeret pelemahan rupiah. Pagi ini Rupiah sempat menyentuh titik terendah 9.030 per dolar AS atau turun 145 poin dibanding penutupan perdagangan kemarin di level 8.885 per dolar.Menurut analis pasar uang PT Integral Investama Toni Mariano, pelemahan rupiah ini dipicu oleh penguatan dolar AS secara global karena adanya peningkatan imbal hasil (yield) obligasi AS yang mencapai titik tertinggi sejak 10 tahun lalu.Peningkatan yield obligasi itu juga dipicu ekspektasi inflasi global yang meningkat."Tren itu memicu pergerakan dana masuk ke AS sehingga mengangkat nilai dolar," kata Toni.Toni juga melihat penurunan rupiah diakibatkan oleh aksi profit taking yang dilakukan pelaku pasar.Meskipun Toni menganggap pelemahan rupiah akan terjadi temporer, namun pelemahan ini mengindikasikan penguatan rupiah yang terjadi selama ini tidak didukung faktor fundamental yang kuat, sehingga mudah diombang-ambingkan pasar.
(qom/ir)











































