Laba WOM Finance Terpangkas Aturan Pencadangan BI
Kamis, 26 Jul 2007 14:57 WIB
Jakarta - Laba bersih PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance) pada semester I 2007 tergerus aturan provisi (pencadangan) baru yang akan diberlakukan Bank Indonesia (BI) pada akhir 2007 ini. Demikian dikatakan oleh Presiden Direktur WOM Finance Suwandi Wiratno dalam perbincangannya dengan wartawan di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis (26/7/2007). "WOM diwajibkan untuk menerapkan ketentuan provisi (pencadangan aktiva produktif) yang sama dengan bank, karena sebagai anak perusahaan BII, maka neraca keuangan WOM dikonsolidasikan ke dalam neraca keuangan BII sehingga penerapan manajemen resiko dilakukan sama antara BII dan WOM Finance sesuai aturan BI tersebut," tuturnya. WOM Finance saat ini 50,03 persen sahamnya dimiliki oleh BII. Karena terafiliasi oleh bank, maka WOM Finance juga diwajibkan mengikuti peraturan yang ditetapkan BI, yakni PBI No.8/6/PBI/2006 mengenai risk management consolidation antara induk perusahaan (dalam hal ini bank) dengan anak perusahaan. "Memang BI mentargetkan aturan ini diterapkan mulai akhir tahun 2007 oleh multifinance yang berafiliasi dengan bank, namun WOM menerapkannya tahun ini. Tujuannya adalah agar kinerja keuangan WOM di tahun-tahun mendatang dapat lebih meningkat dari sebelumnya, jadi kita sudah mulai terlebih dahulu," ujarnya. Suwandi menggambarkan, bahwa dalam aturan BI yang baru ini, kredit yang lancar dikenakan provisi 1 persen dari nilai kredit. Sedangkan kredit dengan keterlambatan pembayaran 1-90 hari dikenai provisi 5 persen, kredit dengan keterlambatan pembayaran 91-120 hari dikenakan provisi 15 persen, kredit dengan keterlambatan 121-180 hari dikenakan provisi 50 persen dan kredit dengan keterlambatan pembayaran lebih dari 180 hari dikanakan provisi 100 persen. Dengan demikian, WOM menganggarkan biaya provisi sebesar kurang lebih Rp 500 miliar untuk provisi kredit yang diberikan selama tahun 2007 dan kredit yang masih berjalan dari tahun-tahun sebelumnya sesuai metode perhitungan BI. "Namun meskipun dampaknya laba kita akan tergerus di tahun ini, namun di tahun-tahun mendatang kinerja WOM akan lebih solid," tambahnya.Kinerja yang lebih baik ditahun-tahun mendatang karena beban kredit macet dari tahun-tahun sebelumnya dapat diminimalkan melalui penghapusan kredit macet setelah memasuki tunggakan di atas 180 hari."Dengan demikian kita tinggal membukukan recovery saja pada saat kredit yang dihapusbukukan tersebut dapat ditagih," ucapnya. Khusus untuk semester I-2007, provisi WOM Finance meningkat menjadi Rp 146 miliar, dari periode yang sama tahun sebelumnya yang berjumlah Rp 50 miliar. "Memang laba bersih semester I 2007 menurun menjadi Rp 9 miliar, namun laba kita sebelum provisi dan pajak meningkat menjadi Rp 158 miliar," jelasnya. Suwandi mengatakan bahwa aturan baru ini memang tidak dilakukan oleh multifinance yang tidak berafiliasi dengan bank, namun pada 2009 nanti seluruh multifinance diwajibkan menerapkan Peraturan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) mengenai pencadangan. "Dengan menerapkan provisi dari sekarang sesuai aturan BI, maka WOM otomatis sudah memenuhi PSAK tersebut terlebih dahulu," tuturnya. Selain itu dengan aturan baru ini, maka WOM tidak ada masalah lagi dengan ketentuan BMPK. "Jadi BII dan WOM dapat melakukan sinergi lebih baik dalam hal funding maupun manajemen resiko, sebagai komitmen, BII pada Juni 2007 telah meningkatkan kepemilikannya di WOM melalui akuisisi saham yang dimiliki IFC sebesar 3 persen sehingga total kepemilikan BII menjadi di atas 50 persen," ujarnya. Penerapan aturan baru ini menurut Suwandi tidak akan menganggu pembiayaan WOM. Tahun 2007 WOM tetap mentargetkan jumlah pembiayaan sebesar Rp 4,5 triliun."Di semester II 2007 kita akan menerapkan strategi pemasaran yang lebih gencar dibandingkan sebelumnya agar target jumlah pembiayaan yang ditetapkan dapat tercapai, kita akan genjot sales dan restrukturisasi," katanya. Untuk laba bersih di tahun ini, Suwandi belum mau mengatakan, tapi dengan adanya provisi memang laba bersih akan tergerus. "Memang tahun ini kita menderita dulu, tapi di 2008 kita akan mentargetkan laba bersih kira-kira di atas Rp 200 miliar, melebihi laba bersih kita di 2005," ujarnya.
(dnl/qom)











































