ADB: Jangan Remehkan Banjir Capital Inflow

ADB: Jangan Remehkan Banjir Capital Inflow

- detikFinance
Selasa, 31 Jul 2007 12:25 WIB
Hong Kong - Negara-negara yang kebanjiran aliran modal masuk atau capital inflow sebaiknya waspada. Aliran modal yang terus mengalir itu tak bisa diremehkan lagi.Hingga akhir tahun 2006, aliran modal yang masuk khusus ke Asia Timur telah mencapai US$ 269 miliar. Membanjirnya modal ini telah menyebabkan adanya tekanan apresiasi terhadap sejumlah mata uang di kawasan tersebut.Selain itu, harga-harga dari sejumlah portofolio investasi pun terus membubung, dan membuat pemerintah negara yang bersangkutan harus ekstra waspada.Demikian disampaikan Asian Development Bank (ADB) dalam 'Asia Economic Monitor' edisi Juli yang dikutip detikFinance, Selasa (31/7/2007)."Hingga saat ini, baht telah menguat hingga 17,6%, peso juga menguat lebih dari 9%, sementara pasar ekuitas juga tumbuh sangat cepat dan menunjukkan peningkatan volatilitas," ujar Jong-Wha Lee, kepala kantor Kerjasama Ekonomi Regional ADB."Pejabat di negara-negara tersebut menghadapi tantangan yang serius karena mereka harus mencari kebijakan yang tepat untuk mengelola capital inflow itu dengan tetap menjaga pertumbuhan ekonomi," tambahnya. Capital inflow itu sebenarnya bisa saja menguntungkan perekonomian. Namun capital inflow itu juga menyimpan bahaya jika tiba-tiba ada pembalikan arah yang tiba-tiba, yang bisa memberi dampak luar biasa atas harga-harga aset dan perekonomian secara keseluruhan. Namun ADB menilai, kondisi perekonomian negara-negara Asia Timur kondisinya kini lebih baik untuk mengatasi gejolak tersebut ketimbang beberapa tahun silam. Negara-negara Asia Timur kini memiliki surplus neraca berjalan yang besar dan juga cadangan devisa yang terus meningkat. Kebijakan untuk menangani besarnya capital inflow itu sebenarnya bisa sangat bervariasi. Namun ADB menyarankan agar kebijakan yang diambil adalah berupa sebuah paket yang memasukkan fleksibilitas mata uang yuang lebih besar, pembatasan peranan kebijakan fiskal, liberalisasi capital outflow, serta mengembangkan aturan dan pengawasan pasar finansial yang lebih efisien. (qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads