Gangguan di AS Bikin Secondary Offering BNI Tak Maksimal
Selasa, 31 Jul 2007 15:14 WIB
Jakarta - Pasar saham global yang terganggu anjloknya sektor perumahan di AS atau subprime mortgage ikut memberikan dampak pada proses penawaran saham (secondary offering) PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI).Dari kisaran harga yang ditawarkan Rp 2.050-2.700, harga BNI hanya laku di harga terbawah Rp 2.050 per saham.Hal tersebut disampaikan Menneg BUMN Sofyan Djalil dalam jumpa pers, di Kantor Kementerian BUMN, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa (31/7/2007). "Seandainya kita tahu masa depan, dua minggu lalu harusnya kita privatisasi BNI. Harganya akan lain, sayangnya kita enggak tahu masa depan. Risiko yang kita hadapi akan seperti ini, secara teori kita mengatakan kita mengganggap timing BNI bagus sekali tapi karena masalah subprime mortgage di AS itu mempengaruhi semua perspektif appetite," katanya.Namun Presdir Bahana Securitas Ito Warsito mengatakan harga itu lebih pada pertimbangan pasar. "Seperti yang kita prediksikan sebelumnya, pasar internasional turun sampai 6 persen minggu lalu dan itu baru terjadi minggu lalu. Situasi ini mempengaruhi psikologis dari para investor asing dan domestik. Kena imbas yang sama dan mereka berpikir yang sama apakah pasar akan turun lagi atau tidak," papar Ito.Yang jadi masalah, lanjut Ito, adalah karena jumlah penawarannya besar hingga Rp 8 triliun lebih. "Tidak mudah untuk menjual IPO sebesar itu. Kalau rekan-rekan melihat pemberitaan banyak sekali transaksi-transaksi yang ditunda atau dibatalkan. Misalnya, Chrysler. Bahkan ada perusahaan di Jerman ada yang mengurangi size (ukuran) harga," tutur Ito.Sofyan Djalil menilai walaupun kondisi pasar pada minggu kemarin agak terganggu namun proses secondary offering yang dijalankan hasilnya cukup menggembirakan. Porsi untuk investor domestik dan asing diberikan sama yakni 50:50. Porsi untuk investor domestik ini jauh lebih tinggi dibanding IPO Bank Mandiri yang domestiknya 40 persen dan asing 60 persen. Serta BRI yang 45 persen domestik dan 55 persen asing. Dana yang diperoleh Rp 8,1 triliun menurut Sofyan akan dibagi dua untuk setoran APBN dan modal BNI. Diakui Sofyan untuk setoran APBN yang semula ditargetkan Rp 4,7 triliun dari BNI memang jadinya tidak tercapai."Saya pikir dari BNI tidak tercapai. Tapi kan kita privatisasi dan kita jual bukan hanya BNI, kalau mengikuti kesepakatan privatisasi dengan DPR yang kita pikirkan darimana kita bisa dapatkan kembali," katanya.Sofyan menjelaskan secondary offering BNI mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 100 persen dengan price book value dua kali yang mengacu pada laporan keuangan Maret 2007.
(ir/qom)











































