IHSG Kritis Selama 2 Minggu

IHSG Kritis Selama 2 Minggu

- detikFinance
Senin, 06 Agu 2007 10:50 WIB
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan mengalami koreksi tajam dalam dua minggu ke depan karena pasar saham global yang labil. Investor diminta tetap waspada."Major correction dan bearish market akan terjadi satu bulan ini. Kondisi volatilitas yang tinggi, dan koreksi yang tajam akan dirasakan selama dua minggu pertama," kata Head of Research PT Trimegah Securities Tbk, Arya Satyagraha ketika dihubungi detikFinance, Senin (6/8/2007).Setelah dua minggu masa kritis tersebut, kata Arya, pasar cenderung stabil dan flat. IHSG kemungkinan akan mengalami rebound pada akhir Agustus atau awal September 2007.Arya mengatakan, keterpurukan IHSG yang pada perdagangan pagi ini telah anjlok lebih dari 90 poin, lebih karena faktor global yang dipicu dari kredit macet perumahan di AS (subprime).Pelaku pasar juga mulai mengantisipasi kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI). Pasalnya BI akan mempertahankan suku bunga dan cenderung menaikkannya sehingga pasar tidak bisa lagi menikmati suku bunga rendah.Meski begitu, pelaku pasar tetap berharap IHSG bertahan di atas 2.000. Investor jangka panjang juga bisa memilih secara hati-hati saham-saham yang jatuh saat ini untuk akumulasi beli. "Ketika koreksi tajam seperti hari ini, untuk investor jangka panjang bisa mulai beli 10-20 persen dari total portofolio terutama saham blue chip sektor infrastruktur, konsumser, ritel, farmasi," tutur Arya.Sementara Head of Research Kresna Securities, Adrian Rusmana mengatakan penurunan IHSG murni faktor regional dan pelemahan rupiah.Menurutnya saham-saham yang rentan terhadap fluktuasi rupiah sebaiknya dihindari. Karena rupiah yang turun akan membuat ongkos biaya jadi besar misalnya perusahaan perusahaan yang bahannya dari impor seperti farmasi.Sedangkan saham yang diuntungkan dari pelemahan rupiah adalah perusahaan ekspor misalnya pertambangan. "Selain itu juga karena faktor ekspektasi BI Rate kemungkinan naik karena bunga negara lain banyak yang naik. Jadi saham yang perlu hati-hati adalah perbankan," tandas Adrian. (ir/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads