Rupiah Ikut Semangat

Rupiah Ikut Semangat

- detikFinance
Selasa, 07 Agu 2007 08:52 WIB
Jakarta - Nilai tukar rupiah diperkirakan akan kembali bergerak menguat setelah pulihnya Wall Street. Penguatan di bursa utama dunia itu diharapkan membawa efek psikologis bagi penguatan rupiah. Investor kini juga sedang menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur BI siang ini.Pada perdagangan Selasa (7/8/2007), rupiah dibuka pada level 9.285 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.290 per dolar AS.Pengamat valas Farial Anwar menyatakan, Bank Indonesia (BI) seharusnya terus berada di pasar untuk menjaga agar rupiah tidak terlalu bergejolak. Farial menilai penurunan rupiah akhir-akhir ini cukup tajam. Farial menyayangkan pernyataan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah yang mengatakan bahwa level rupiah yang aman berada pada kisaran Rp 8.500-Rp 9.500 per dolar AS."Itu sangat memprihatinkan, berarti rupiah bsia bergerak dalam 1.000 poin mana ada mata uang yang bisa bergerak 1.000, dan ini dilihat oleh pelaku pasar sehingga akhirnya ramai-ramai panic selling," ujarnya saat dihubungi detikFinanceDengan membuat ppernyataan seperti itu, Farial melihat BI membiarkan rupiah volatile habis-habisan."Itu menurut saya menyedihkan berarti membiarkan rupiah volatile, akibatnya rupiah gila-gilaan, bayangkan dalam waktu singkat naik 200 poin," tambahnya.Rupiah yang stabil perlu supaya dunia usaha bisa melakukan perencanaan usahanya dengan baik. "Kalau guncang seperti ini akan mengganggu dunia usaha," ujarnya.BI harusnya tidak boleh mendiamkan rupiah bergerak tak terkendali, bukan berarti sistem kurs mengambang bebas membuat BI lepas kendali."Sistem kurs memang diserahkan kepada pasar, tapi masyarakat bisa menderita, ini harus direm," ujarnya.Sudah waktunya BI melakukan intervensi dan kontrol terhadap bank-bank asing yang melakukan spekulasi rupiah. Bank asing ini merupakan pemain dominan dalam pasar valas. Bank asing memang dikenal sangat profit oriented."Harusnya itu dikontrol aksi sepkeluasi dalam jumlah yang besar, BI kirim stafnya ke bank asing itu, BI harus menegur," katanya.Harga minyak yang terus melemah, bahkan hinggap di US$ 75 per barel harus jadi warning bagi rupiah, karena menurut Farial, hal itu berarti pembelian dolar AS oleh Pertamina akan semakin besar. (ddn/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads