Investor Harus Tenang dan Waspada Sikapi Pasar Global

Investor Harus Tenang dan Waspada Sikapi Pasar Global

- detikFinance
Selasa, 07 Agu 2007 17:24 WIB
Jakarta - Investor dihimbau untuk tetap tenang tapi tetap waspada dalam menghadapi gejolak yang terjadi di dalam perekonomian global saat ini. Hal tersebut disampaikan Menko Perekonomian Boediono di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta (7/8/2007). "Kalau melihat dari fundamentalnya, kayaknya bahwa ekonomi dunia nampaknya masih cukup baik, jadi ini masalah pasar terutama awalnya karena subprime mortgage market yaitu pinjaman untuk perumahan di bawah standar yang jumlahnya cukup lumayan di Amerika," ujarnya. Dia mengatakan bahwa gejolak yang terjadi di AS itu berimbas kepada negara-negara lain. "Karena jika terjadi sesuatu di Amerika, kemudian kaitannya di seluruh dunia tentunya kena imbas, ya kita tetap waspada, tetap berpikiran dengan tenang dan kepala dingin dan kita perkuat rambu-rambu kita sendiri dan itu yang terbaik buat kita," jelasnya. Meskipun begitu, Boediono mengakui belum mengetahui seberapa besar dampak dari gejolak ekonomi global ini. "Kalau kita dengarkan dari berbagai analisis dari analis Amerika, macam-macam, ada yang pesimis, ada juga yang optimis, jadi kita belum tahu, tapi sekali lagi kita haris tenang, karena ini memang gejolak di dunia, IHSG naik turun sesuai dengan di negara-negara lain," paparnya. Boediono juga mengatakan bahwa dengan gejolak yang terjadi, pemerintah tetap optimis asumsi makro ekonomi yang telah disetujui oleh pemerintah dengan DPR akan tercapai. "Kita merasa asumsi-asumsi yang disepakati dengan dewan bisa kita capai, dan kita harus optimis karena itu belum perlu revisi," ujarnya. Selain itu Boediono juga menanggapi kebijakan Bank Indonesia yang tetap menahan suku bunganya tetap di level 8,25 persen. "Saya rasa BI mempunyai informasi yang sangat baik, jadi saya percaya apa yang diputuskan oleh BI adalah yang paling baik untuk kita, dan kita dukung," jelasnya. Menurutnya dengan kebijakan BI tersebut dapat dilihat keseimbangan dari berbagai segi. "Dari segi biaya yaitu biaya untuk usaha, di satu sisi juga dari segi menjaga supaya rasa ketenangan terjaga, jadi menurut saya BI lebih tahu daripada saya," jelasnya. (dnl/ddn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads