Kredit Macet di AS, Kok Kita Kena?

Kredit Macet di AS, Kok Kita Kena?

- detikFinance
Senin, 13 Agu 2007 08:10 WIB
Jakarta - Banyak orang heran kenapa Indonesia harus ikut repot tertimpa dampak kisruh kredit macet sektor perumahan di Amerika Serikat. Kekisruhan masalah kredit di negara adidaya itu memang telah menyebabkan gejolak di seluruh pasar finansial dunia, termasuk Indonesia. Kok bisa?Seperti diketahui, AS dalam beberapa tahun terakhir sedang dilanda booming harga rumah dan kredit yang murah, dipicu oleh rendahnya tingkat suku bunga. AS pada dua tahun silam, mencatat suku bunga kredit terendah dalam 45 tahun terakhir yakni sebesar 1%.Namun era suku bunga rendah itu berakhir pada Juni 2004, setelah Bank Sentral AS (The Fed) secara bertahap menaikkan suku bunga patokannya sebesar 25 basis poin. Dan kini, suku bunga patokan The Fed sudah nangkring di posisi 5,25%.Dampaknya, kredit sektor perumahan pun menjadi semakin mahal dan harga-harga rumah jatuh. Hal itu telah menyebabkan tingginya tingkat gagal bayar pada debitor. Terutama sekali adalah pada peminjam berisiko tinggi, yang terus berjuang untuk bisa membayar kembali.Itulah yang dikenal sebagai masalah subprime mortgage, yakni hipotik yang ditopang jaminan kredit kepemilikan rumah yang profil debitornya memiliki kemampuan membayar rendah.Pelaku pasar semakin dikejutkan setelah BNP Paribas mengumumkan pembekuan 3 investasinya menyerupai reksadana yang berhubungan dengan sektor perumahan itu. Pembekuan dilakukan karena BNP Paribas tak dapat lagi melakukan penilaian atas aset-asetnya. Pembekuan itu menyebabkan investor bertanya-tanya? Seberapa luas dampak masalah kredit macet di AS itu? Tak heran, kepanikan pun merajalela. Bank-bank kini juga harus menyediakan dana cash ekstra untuk mencegah kerugian lebih lanjur dari buruknya investasi dan terlanjur menjadi kredit macet.Bagaimana masalah itu bisa sampai ke Indonesia, meski belum ada satupun fund manager yang melaporkan kerugian akibat terseret masalah di AS itu?Sebagai sebuah negara dengan sistem perekonomian yang terbuka, Indonesia tidak bisa mangkir dari gejolak tersebut. Mau tak mau, Indonesia akan terimbas dengan semua kondisi dunia tersebut.Pengamat valas Farial Anwar menjelaskan, hal itu disebabkan karena jika sebuah fund manager asing menderita kerugian disuatu negara, maka dia akan melakukan profit taking pada investasinya di negara lain.Mereka menjual saham, Surat Utang Negara yang hasilnya untuk membeli dolar. Nah, dolar itulah yang digunakan untuk menambah likuiditas meraka."Jadi sekarang mereka sedang melakukan rebalancing. Permintaan dolar meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Akibatnya, pasar global kekurangan dolar AS karena banyak redemption besar-besaran," jelas Farial akhir pekan lalu. Farial juga menengarai gejolak di pasar finansial dunia ini tak semata bersumber dari ruwetnya masalah subprime mortgage di AS. Kekisruhan itu juga dipicu oleh ketegangan Cina-AS.Seperti diketahui, AS baru-baru ini mengumumkan sejumlah penarikan produk-produk Cina dengan alasan mengandung bahan berbahaya.Cina pun membalasnya dengan mengancam akan menjual cadangan devisanya sebesar US$ 1,3 triliun yang sebagian besar berupa treasury bills di AS."Bisa dibayangkan kalau mereka melakukan itu. Dampaknya ke Indonesia, ini merupakan akibat dari rezim devisa bebas. Jadi ada potensi krisis berkepanjangan," jelas Fahrial.Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) sejauh ini meyakini gejolak di pasar finansial itu hanya bersifat sementara. Namun Menko Perekonomian Boediono memastikan bahwa Indonesia harus membentengi diri agar tidak terseret gejolak itu. Namun baik Boediono dan BI belum secara pasti mengumumkan langkah apa yang akan dilakukan. Pemerintah dan BI sebaiknya segera merilis kebijakan baru untuk menghindari ambruknya pasar finansial.Jangan sampai AS yang krisis, Indonesia ikut repot... (qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads