Welcome Back, BNI...

Welcome Back, BNI...

- detikFinance
Senin, 13 Agu 2007 08:40 WIB
Welcome Back, BNI...
Jakarta - Di tengah situasi pasar finansial dunia yang sedang lemah lesu, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) kembali menambah sahamnya ke pasar melalui secondary offering. Penmbahan saham BNI ini sangat ditunggu-tunggu pasar, dan diharapkan mampu menjadi obat mujarab bagi IHSG yang terus menerus tiarap terkena 'flu' pasar finasial dunia itu. Rencananya, saham kedua BNI akan kembali mejeng di Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada Senin (13/8/2007) ini. Pencatatan saham BNI yang kedua ini merupakan yang terbesar dalam sejarah pasar modal Indonesia untuk pelaksanaan secondary offering.Dengan harga penawaran Rp 2.050 per saham ---yang merupakan patokan terendah---, penawaran saham kedua BNI diharapkan mampu menghasilkan dana hingga Rp 8,1 triliun.Jika saja BNI tidak 'sial' karena kondisi pasar yang sedang tidak menguntungkan, maka dana yang diraup diperkirakan bisa lebih besar. Dalam perhitungan sebelumnya, pemerintah menargetkan harga saham BNI bisa mencapai kisaran Rp 2.050-2.700 per saham. Bayangkan, berapa yang bisa diraup pemerintah jika saja bisa meraup harga BNI yang optimal?Namun Wapres Jusuf Kalla jauh-jauh hari sudah menegaskan bahwa proses IPO ataupun divestasi BUMN tidak akan dimundurkan meski kondisi pasar finansial dunia sedang 'tidak sehat'. Pemerintah tak boleh mundur, karena bisa mencederai kepercayaan pelaku pasar. Dalam penawaran kedua kali ini, saham pemerintah yang dilepas mencapai 3,95 miliar lembar, yang terdiri dari 1,5 miliar milik negara dan 1,974 miliar saham negara hasil penawaran umum terbatas II dan 474 juta saham yang ditawarkan melalui opsi penjatahan lebih.Sementara untuk rights issue BNI, saham yang dilepas mencapai 1,992 miliar saham seharga Rp 2.025. BNI mencatatkan saham pertamanya pada 25 November 1996. Kala itu, BNI menjadi bank pertama yang tercatat di lantai bursa. Namun pada tahun 2000, pemerintah menyuntikkan obligasi rekapitalisasi ke BNI sekitar Rp 60 triliun. Suntikan itu sekaligus untuk menyelamatkan BNI menyusul krisis moneter yang merontokkan sejumlah bank nasional. Kepemilikan saham pun terdilusi, sehingga akhirnya kepemilikan saham BNI menjadi 99,11 persen milik pemerintah Indonesia dan 0,89 persen saham milik masyarakat.Seiring pertumbuhan waktu dan perombakan di tubuh BNI, kinerja bank pelat merah ini pun semakin membaik. Jika laba bersihnya sempat anjlok hingga 54% pada tahun 2005, maka kinerja BNI kini tak lagi 'merah'. BNI hingga akhir tahun 2006 sudah berhasil mencetak laba sebesar Rp 1,925 triliun. Sementara hingga 31 Maret 2007, BNI mencatat laba bersih sebesar Rp 400,3 miliar. Jika saja situasi pasar finansial sedang sehat, saham BNI pasti bisa lebih optimal mengingat kinerja dan prospeknya yang cukup menggiurkan. Namun demikian, meski situasi pasar finansial tak mendukung, penambahan saham BNI tetap dinantikan dan diharapkan bisa menjadi obat mujarab para investor.Jadi, welcome back BNI... (qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads