Krisis Subprime Mortgage AS Bukan Bencana Finansial

Krisis Subprime Mortgage AS Bukan Bencana Finansial

- detikFinance
Selasa, 14 Agu 2007 15:05 WIB
Jakarta - Sekitar 1,7 juta rakyat AS diprediksi akan kehilangan rumahnya tahun ini akibat macetnya kredit perumahan berisiko tinggi atau subprime mortgage."Ini lebih kepada bencana sosial daripada bencana finansial," ujar peraih Nobel Ekonomi 2001 yang juga ekonom AS Joseph E Stiglitz usai peluncuran buku 'Making The Globalization Work' di Hotel Four Seasons, Jakarta, Selasa (14/7/2007).Stiglitz menuturkan selama beberapa tahun inflasi di AS relatif rendah, masyarakat AS sudah terbiasa untuk menyimpan uangnya untuk merangsang ekonomi AS. Produk hipotik di AS pun beragam."Namun tidak ada cukup regulasi sehingga mereka punya produk hipotek (mortgage) yang mendorong orang mengambil mortgage lebih dari kemampuan mereka untuk membayar kembali," ujarnya.Produk mortgage ini dinilai Stiglitz sangat tricky alias menjebak. Dia mencontohkan ada hipotek yang pada 3 tahun pertamanya si pemegang hipotek hanya bayar separuh dari bunga namun kemudian suku bunga akan terus meningkat."Kemudian si penjual mortgage bilang jangan khawatir, dalam 3 tahun ambil mortgage baru dan ketika harga rumah naik, kau akan menghasilkan banyak keuntungan," ujarnya.Tentu saja pialang-pialang mortgage itu mendapatkan uang fee di muka dan mereka menghasilkan uang ketika mereka menjual rumah, tapi risiko tetap dipegang oleh individu."Akhirnya orang-orang ini terpaksa berakhir dengan tagihan hipotik yang jumlahnya hampir sama dengan total income. Ketika harga rumah mulai turun, suku bunga naik, game over...dan mereka tidak mendapat re-mortgage," ujarnya.Masalah subprime mortgage ini dinilai Stiglitz sangat menular ke aspek ekonomi yang lain. "Kita belum tahu apa yang paling buruk," ujarnya.Ketika ditanyakan apa yang harus dilakukan pemerintah dan BI sebagai otoritas fiskal dan moneter di Indonesia, Stiglitz mengatakan tidak banyak yang bisa dilakukan selain menambah likuiditas ke pasar."Tapi seperti badai yang biasa berlalu. Pertanyaannya adalah seberapa besar dampaknya setelah badai selesai dan memang ekonomi kembali pulih, tapi banyak orang yang akan menderita," ujarnya. (ddn/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads