Terkapar 139 Poin
IHSG Paling Hancur di Asia
Rabu, 15 Agu 2007 16:11 WIB
Jakarta - Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat pelemahan paling dalam di bursa Asia. IHSG makin bergerak liar karena investor panic selling.Pada penutupan perdagangan saham Rabu (15/8/2007), IHSG terkapar jatuh 139,555 poin (6,44%) ke level 2.029,083.IHSG menjadi korban gonjang-ganjing pasar finansial global menyusul kredit macet perumahan (subprime mortgage) di AS yang tak kunjung pulih.Bursa Nikkei Jepang turun 2,19 persen, Hang Seng Hongkong turun 2,8 persen, Shanghai Cina turun 0,06 persen, Kosdaq Korea turun 2,45 persen, Strait Times Index Singapura turun 3,51 persen, dan Indeks Taiwan Weighted turun 3,57 persen.Indeks LQ-45 turun 31,580 poin (7%) pada level 419,864 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 24,496 poin (6,73%) pada level 339,457.Perdagangan di seluruh pasar mencatat transaksi sebanyak 52.586 kali, dengan volume 4,294 miliar unit saham, senilai Rp 4,424 triliun.Dari seluruh saham yang aktif ditransaksikan hanya 10 saham yang naik, sisanya 232 saham turun dan 14 saham stagnan.Saham-saham yang turun harganya di top losser antara lain, Timah (TINS) turun Rp 1.700 menjadi Rp 10.900, Astra Internasional (ASII) turun Rp 750 menjadi Rp 16.250, Telkom (TLKM) turun Rp 700 menjadi Rp 10.150, Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun Rp 600 menjadi Rp 9.650, United Tractors (UNTR) turun Rp 600 menjadi Rp 6.950, Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 550 menjadi Rp 5.200, Bumi Resources (BUMI) turun Rp 250 menjadi Rp 2.325 dan Bank Negara Indonesia (BBNI) turun Rp 85 menjadi Rp 1.790. Sedangkan saham-saham yang masih mencatat kenaikan harga di top gainer antara lain, Sepatu Bata (Bata) naik Rp 100 menjadi Rp 14.500, Smart (SMAR) naik Rp 25 menjadi Rp 4.150 dan Kedawung Setia Industrial (KDSI) naik Rp 25 menjadi Rp 275.Sejumlah analis pasar saham mengaku bingung melihat pergerakan IHSG yang makin sulit diprediksi."Melihat kondisi ini saya bingung juga, alasannya apa, tapi saya lihat sudah panic selling," kata Analis Mega Capital Felix Sindhunata, saat dihubungi detikFinance, Selasa (15/8/2007).Hal yang sama juga dikemukakan Direktur Finan Corpindo Securities, Edwin Sinaga. Kondisi pelaku pasar yang panik, menurutnya akan membuat analis sulit memprediksi berapa dalam indeks akan tenggelam lagi."Prediksi turunnya indeks sudah no limit (tidak ada batasnya)," ujarnya.Meskipun demikian keduanya sepakat, sekarang sudah saatnya investor jangka panjang untuk masuk secara bertahap membeli saham-saham berfundamental bagus yang bertumbangan."Untuk investor yang mau hold satu sampai tiga bulan saya sarankan mulai beli," tandas Edwin.
(ir/ir)











































