Dirut BNI:
Pemegang Saham BNI Jangan Panik
Kamis, 16 Agu 2007 16:38 WIB
Jakarta - Dirut PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Sigit Pramono kini dibuat repot dengan pertanyaan investor yang kecewa terhadap anjloknya saham BNI di bawah harga penawaran saham kedua (secondary offering) Rp 2.050 per saham.Saham BNI dengan kode perdagangan BBNI pada penutupan perdagangan Kamis (16/8/2007) kembali turun Rp 110 menjadi Rp 1.680. Sigit menilai penurunan saham BNI murni karena faktor eksternal dari terpukulnya pasar finansial global akibat krisis kredit perumahan (subprime mortgage) di AS.Menurutnya hampir semua harga saham bank terkoreksi tapi bukan kinerja perusahaannya yang turun, termasuk BNI yang tidak ada masalah kinerja."Investor yang benar itu adalah investor yang investasi jangka panjang. Ini yang harus kita didik jangan sampai panik, karena tidak bisa diukur harian. Karena investasi jangka panjang di perusahaan-perusahaan BUMN itu trennya akan naik. Bank Mandiri juga dulu pernah turun karena ada masalah namun naik lagi. Namanya dagang seperti itu, saya juga maunya naik terus harganya," papar Sigit.Hal itu diungkapkan Sigit disela-sela acara BUMN Forum di Gedung Telkom, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (16/8/2007).Sigit mengakui ada kesepakatan dengan penjamin emisi untuk melakukan stabilisasi harga dalam waktu 30 hari sejak pencatatan secondary offering."Ya itu memang perjanjian namanya green shoe. Bagian saham yang digunakan untuk melakukan stabilisasi harga. Itu berlaku umum dalam rangka penjaminan emisi. Itu biasa," tutur Sigit. Menurut Sigit masalah stabilisasi harga itu adalah kewenangan penjamin emisi sehingga pihaknya tidak tahu akan distablisasi di harga berapa.
(ir/qom)











































