Yang Terburuk Berlalu, Namun Krisis Mortgage Masih Membayang
Selasa, 21 Agu 2007 12:33 WIB
Jakarta - Dampak yang terburuk dari krisis subprime mortgage sudah berlalu. Namun dampaknya masih akan tetap membayangi pasar saham Indonesia hingga satu bulan kedepan.Ekonom Bank Mandiri Martin PH Panggabean menilai, sentimen negatif dari subprime mortgage belum akan hilang meskipun Bank Sentral AS (The Fed) telah mengambil langkah darurat dengan memangkas suku bunga diskonto hingga 50 basis poin."Sentimen negatif masih akan ada, nanti akan terus muncul fakta-fakta negatifnya. Kemarin kan yang pertama BNP Paribas, terus Goldman Sachs, nanti kedepannya ada yang masih seperti itu," kata Martin dalam diskusi dikantornya, Plaza Mandiri, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (21/8/2007).Dengan kondisi demikian, Martin memperkirakan pasar saham Indonesia masih tetap akan bergejolak, namun yang terburuk telah berlalu. Ia memperkirakan dalam 1 bulan ke depan IHSG akan berfluktuasi di kisaran 2.000-2.100. Menurut Martin, setelah krisis subprime mortgage berlalu, saham-saham di Indonesia sudah mendekati nilai fundamental sebenarnya sehingga potensi koreksi lanjutan menjadi lebih kecil.Namun ia mengingatkan, koreksi yang signifikan belum terjadi di saham-saham lapis kedua. Hal ini dikarenakan kenaikan IHSG yang sampai 2.400 didorong oleh saham-saham lapis kedua."Koreksi yang akan terjadi di second liner, blue chips sudah cukup terkoreksi. Jadi second liner masih sangat berbahaya dan rentan koreksi," jelasnya.Saat ini PE ratio rata-rata sudah kembali di kisaran 15 kali dari sebelumnya 19-20 kali saat titik IHSG tertinggi.
(qom/ddn)











































