Ciliandra Naik Kelas Berkat CPO
Selasa, 28 Agu 2007 10:06 WIB
Jakarta - Lembaga pemeringkat, Fitch Ratings menaikkan prospek PT Ciliandra Perkasa dari 'stabil' ke 'positif'.Fitch juga menegaskan peringkat mata uang asing dan mata uang lokal Ciliandra pada 'B+' dan peringkat pengembalian 'RR4' terhadap obligasi senior sejumlah US$ 160 juta yang diterbitkan oleh Ciliandra Perkasa Finance Company Pte. Ltd. dan dijamin oleh Ciliandra dan anak-anak perusahaannya. Obligasi ini akan jatuh tempo di tahun 2011. Fitch juga menaikkan peringkat nasional jangka panjang Ciliandra ke 'A(idn)' dari 'A-(idn)' ((A minus (idn)). Prospek untuk peringkat nasional jangka panjang tersebut juga Positif. Fitch menjelaskan, Ciliandra akan mendapatkan dampak positif dari kenaikan harga CPO. Harga internasional CPO meningkat ke US$ 478 per ton di tahun 2006 dari US$ 422 per ton di tahun 2005. Harga internasional tersebut meningkat lebih lanjut di tahun 2007, mencapai US$ 811 per ton di bulan Juli. Rata-rata harga internasional pada tujuh bulan pertama 2007 mencapai US$ 703 per ton. Kenaikan harga tersebut didukung oleh meningkatnya permintaan produsen bahan bakar nabati (bio-fuel) akan minyak nabati. Fitch memperkirakan permintaan akan CPO sebagai substitusi minyak nabati lainnya akan tetap tinggi pada beberapa tahun yang akan datang. Hal ini akan berdampak positif terhadap harga CPO. Fitch menilai, membaiknya profil perkebunan kelapa sawit yang dimiliki oleh Ciliandra merupakan faktor pendorong positif terhadap kenaikan pendapatan. Membaiknya profil perkebunan tersebut menyebabkan peningkatan produksi tandan buah segar (FFB) dan CPO. Namun peringkat Ciliandra dibatasi oleh rencana belanja modal yang agresif sampai 2009, sejumlah US$ 126 juta. Sekitar 37% dari belanja modal tersebut akan digunakan untuk membiayai pembangunan pabrik bio-diesel. Ciliandra meningkatkan kapasitas pabrik bio-dieselnya ke 250.000 ton per tahun dari rencana semula sebesar 150.000 ton per tahun. Fitch berpendapat risiko dari usaha bio-diesel tersebut terletak pada penggunaan teknologi yang belum terbukti serta prospek komersial dari usaha bio-diesel tersebut, terutama pada kondisi harga CPO yang tinggi. Namun demikian, risiko yang terkait dengan belanja modal yang besar tersebut dapat dikurangi, dikarenakan 63% dari total belanja modal yang dianggarkan akan digunakan untuk pengembangan usaha perkebunan kelapa sawit di mana Ciliandra sudah memiliki pengalaman yang cukup.
(qom/ir)











































