Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat melemah hingga 2% di perdagangan sesi II hari ini, Senin (12/1). Indeks saham sempat menyentuh level terendahnya 8.715,41 atau melemah lebih dari 2% di perdagangan sesi II.
Saat ini, IHSG berhasil pulih kendati masih tercatat kurang darah. Berdasarkan data perdagangan RTI Business hingga penutupan hari ini, IHSG berada di level 8.884,72 atau melemah 0,58%.
Padahal, IHSG pagi tadi sempat menyentuh level tertingginya pada posisi 9.000,96. Pada pembukaan perdagangan, IHSG juga dibuka meyakinkan pada level 8.991,76. Sejalan dengan hal tersebut, saham-saham di sektor energi juga turut terkoreksi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: IHSG Tiba-tiba Anjlok 2%! |
Saham Melorot
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) misalnya, sempat melorot 12,12% seiring melemahnya IHSG. Namun saat ini, saham milik Grup Bakrie dan Grup Salim itu mulai bergerak naik kendati masih terkoreksi 5,63% ke level Rp 436 per lembar saham.
Nasib serupa juga dialami PT Darma Henwa Tbk (DEWA), yang merosot 12,96%. Kemudian saat ini, saham DEWA kembali naik meski masih terkoreksi sebesar 2,47% ke harga Rp 790 per lembar saham.
Profit Taking
Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, mengatakan pergerakan IHSG hari ini terjadi imbas aksi ambil untung atau profit taking yang agresif. Hal tersebut diperburuk dengan tekanan yang terjadi pada saham-saham energi. Namun menurutnya, aksi profit taking ini masih dalam batas yang hal wajar.
"Investor perlu katalis kuat dan keberlanjutan untuk dapat terus menguat dan bertahan di atas 9000. Tekanan indeks juga diperparah dari koreksi tajam pada saham-saham berisiko seperti BUMI dan DEWA. Untuk pergerakan roller coaster, menunjukkan pasar berada dalam fase konsolidasi, koreksi seperti ini masih tergolong wajar," ungkap Reydi saat dihubungi detikcom, Senin (12/1/2026).
IHSG Dibebani Emiten Energi
Dihubungi terpisah, Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan pergerakan IHSG hari ini dibebani oleh emiten energi yang bergerak menguat beberapa waktu lalu. Diketahui sebelumnya, sejumlah emiten di sektor energi menguat saat Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan pengambilalihan minyak Venezuela setelah penangkapan Nicolas Maduro.
Saat itu, saham-saham sektor energi seperti saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang tercatat menguat 8 hari terakhir sebesar 30,57%. Kemudian pada saat IHSG melemah, saham tersebut juga ikut rontok 8,13% sebelum kembali menguat 2,44% ke harga Rp 1.260 per lembar.
Selain saham milik Grup Bakrie itu, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga sempat merasakan manisnya momentum tersebut. ENRG menguat 29,65% sepanjang perdagangan 12 hari terakhir. Kemudian siang tadi, saham tersebut sempat terkoreksi 6,93% sebelum akhirnya bergerak naik 2,71% ke harga Rp 1.615 per lembar.
"Kami mencermati koreksi dari IHSG ini dibebani oleh emiten-emiten energi yang tadi sempat terkoreksi kurang lebih 2%, di mana kami perkirakan adanya kemungkinan aksi ambil untung setelah beberapa emiten energi menguat signifikan. Dan saat ini nampak IHSG kembali rebound meskipun masih berada di teritori negatif," ungkap Herditya.
Selain itu, pergerakan IHSG hari ini juga kuat dipengaruhi oleh meningkatnya tensi geopolitik, khususnya antara AS dan Iran yang dikabarkan terus memanas. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyebut akumulasi ketegangan geopolitik dan data Consumer Price Index (CPI) AS menjadi meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar.
"Hemat saya, pelaku pasar merespons wajar terhadap meningkatnya ketegangan AS-Iran. Di sisi lain, para pelaku pasar juga mencermati US CPI yang masih diproyeksikan akan terus mengalami cooling down," jelas Nafan.
Lihat juga Video: Sempat Diprediksi Tembus Level 9.000, Target IHSG Gagal Total!











































