Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam tren melemah hingga hampir menyentuh level Rp 17.000/US$. Kondisi ini memicu kekhawatiran soal dampaknya terhadap perekonomian nasional.
Mengutip data Bloomberg, Rabu (21/1/2026), dolar AS semakin menguat terhadap rupiah di level Rp 16.963. Penguatan terjadi sebesar 7 poin atau 0,04%. Lantas, apa dampaknya jika dolar AS tembus Rp 17.000?
Pengamat Ekonomi dari Indonesia Strategic and Economics Action Institution, Ronny P Sasmita mengatakan dampak yang akan langsung dirasakan adalah kenaikan harga dari barang impor atau barang yang tergantung bahan baku impor. Barang tersebut seperti bahan pangan tertentu, obat-obatan, alat kesehatan, elektronik, hingga BBM dan LPG.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika rupiah tembus Rp 17.000, masyarakat akan merasakannya bukan lewat angka kurs, tetapi lewat harga yang naik, daya beli yang turun dan ketidakpastian ekonomi yang semakin meningkat," kata Ronny kepada detikcom, Rabu (21/1/2026).
Jika begitu, biaya hidup akan naik tanpa diikuti kenaikan pendapatan. Nilai tukar rupiah yang melemah perlahan tanpa disadari membuat dompet 'bocor' dalam waktu cepat.
"Masyarakat mungkin tidak sadar kurs rupiah, tetapi mereka sangat sadar saat harga bahan pokok berbasis impor naik seperti gula dan daging, lalu ongkos transportasi dan biaya listrik terasa makin mahal," imbuhnya.
Dari sisi dunia usaha, biaya produksi juga akan meningkat. Dampaknya, perusahaan akan dipaksa memilih antara menaikkan harga jual, menekan upah atau melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) untuk mengurangi beban biaya.
"Banyak industri kita masih impor bahan baku dan barang modal. Jika kurs Rp 17.000 bertahan lama, perusahaan akan dipaksa memilih antara menaikkan harga jual, menekan upah atau mengurangi tenaga kerja. Dalam jangka pendek, risiko PHK dan perlambatan penciptaan lapangan kerja," beber Ronny.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menambahkan dampak lainnya adalah tekanan inflasi yang meningkat dan daya beli terutama dari kalangan menengah bawah akan tergerus.
"Kalau rupiah tembus di atas Rp 17.000 per dolar AS, akan terjadi imported inflation, inflasi yang disebabkan naiknya biaya impor. Bahan pangan yang berasal dari impor lebih mahal, inflasi naik, daya beli turun," ungkap Bhima.
Menurut Bhima, cicilan motor dan kredit pemilikan rumah (KPR) bisa ikut naik karena komponen impor otomotif dan rumah turut mempengaruhi harga jual barang. Selain itu jika dolar AS tembus Rp 17.000, utang pemerintah terutama yang berasal dari kreditur luar negeri menjadi lebih mahal.
"Utang pemerintah terutama yang berasal dari kreditur luar negeri jadi lebih mahal. Bunga dan cicilan utang makin memperlebar defisit APBN," pungkas Bhima.
Saksikan Live detikSore:
Simak juga Video 'Rupiah Nyaris Sentuh Rp 17.000 per Dolar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah!':
(aid/fdl)










































