Net foreign sell atau aksi jual investor asing tercatat tinggi sepanjang perdagangan Rabu (28/1). Aksi ini diketahui terjadi akibat kepanikan investor asing terhadap pengumuman MSCI terkait metodologi perhitungan free float.
Berdasarkan data perdagangan RTI Business, net foreign sell mencapai Rp 6,17 triliun. Sepanjang 2026, net foreign sell investor asing mencapai Rp 3,30 triliun.
Sementara itu, tercatat sejumlah saham berkapitalisasi besar yang dilepas asing. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) misalnya, tercatat net foreign sell sebesar Rp 4,1 triliun sepanjang perdagangan kemarin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: IHSG Trading Halt Lagi! |
Selain itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga mencatat net foreign sell sebesar Rp 1,3 triliun. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga mencatat tren net sell hingga Rp 1,1 triliun.
Emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lainnya juga mencatat tren serupa. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) misalnya, tercatat aksi jual hingga Rp 546 9 miliar. Nasib serupa juga dialami, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan aksi jual sebesar Rp 314,3 miliar.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, mengatakan panic selling terjadi karena adanya pembekuan rebalancing atau penyesuaian kembali komposisi saham Indonesia bulan Februari di MSCI. Pembekuan rebalancing ini berlaku hingga bulan Mei mendatang.
"Apa yang terjadi hari ini memang ada, menurut saya panic selling karena dua hal yang disampaikan yang jadi concern adalah, pertama untuk di bulan Februari rebalance-nya di-freeze. Jadi kalau kita terjemahkan apa yang disampaikan tidak ada penambahan atau pengurangan konstituen perusahaan tercatat kita di MSCI," ungkap Iman di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Rabu (28/1/2026).
Selain itu, terang Iman, MSCI juga akan menurunkan peringkat BEI menjadi Frontier Market dari posisi saat ini dalam kategori Emerging Market. Keputusan ini akan ditetapkan jika perbaikan tidak kunjung dilakukan BEI hingga Mei mendatang.
"Artinya, kita mungkin sejajar dengan Vietnam dan Filipina. Kalau kita sekarang kan di emerging market sama dengan Malaysia," jelasnya.
(ahi/ara)











































