Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir buka suara soal anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG diketahui rontok hingga terkena trading halt atau penghentian sementara perdagangan dalam dua hari berturut-turut pada Rabu (28/1) dan Kamis (29/1).
Pada perdagangan sesi I hari ini, IHSG masih berada di zona merah dan turun ke level 7.828,47 atau turun 5,91%. Pandu menilai jika Bursa Efek Indonesia (BEI) tak segera memperbaiki regulasi maka ada potensi IHSG turun lebih dalam.
"Saya rasa sih kalau nggak ada perubahan pasti jatuh," ujarnya dalam Prasasti Economic Forum 2026 di The Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (29/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anjloknya IHSG dikaitkan dengan pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait metodologi penghitungan free float. Ia menilai masukan dari MSCI menjadi pengingat bagi regulator untuk bekerja lebih baik.
Pandu juga mengaku sudah bertemu jajaran Direksi MSCI. Menurutnya, masukan yang disampaikan MSCI sudah sangat jelas dan meminta regulator segera bertindak. Ia juga menilai keputusan MSCI terkait bursa Indonesia sudah tepat.
"Ini bagus dari MSCI ini kan sebenarnya, mungkin biar background teman-teman tahu, ini sudah 3-4 bulan isu ini. Saya sendiri sudah bertemu dengan direksi MSCI. Jadi masukan-masukannya menurut saya sangat clear. At the end regulator harus bisa bertindak," beber Pandu.
MSCI sendiri menetapkan sejumlah perubahan indeks review pada Februari 2026 mendatang. Perubahan sementara untuk pasar Indonesia mencakup tiga hal, pertama pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS).
Kedua, pembekuan penambahan konstituen ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). Ketiga pembekuan perpindahan naik antar-indeks segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.
Dalam pengumumannya, MSCI menyebut ketetapan ini dilakukan untuk mengurangi index turnover dan risiko kelayakan investasi (investability). Ketetapan ini juga sekaligus memberi waktu bagi otoritas pasar untuk menghadirkan perbaikan transparansi.
"Perawatan ini bertujuan untuk mengurangi risiko pergantian indeks dan risiko kelayakan investasi sambil memberikan waktu bagi otoritas pasar yang berwenang untuk menerapkan perbaikan transparansi yang signifikan," tulis pengumuman MSCI, dikutip Rabu (28/1/2026).
Jika tidak ada perbaikan hingga Mei 2026, MSCI akan mengevaluasi kembali status akses pasar Indonesia. Langkah ini dilakukan dengan memperhatikan penurunan bobot dalam Indeks Pasar Emergen MSCI untuk semua sekuritas Indonesia dan potensi reklasifikasi Indonesia dari status Pasar Emergen ke Pasar Frontier.
Simak juga Video 'Dampak MSCI Terhadap Merahnya IHSG Hari Ini':
(acd/acd)










































