Dolar AS Hampir Rp 17.000, Bos BI Akui Rupiah Sudah Kemurahan

Dolar AS Hampir Rp 17.000, Bos BI Akui Rupiah Sudah Kemurahan

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 19 Feb 2026 14:53 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo
Foto: Dok. Bank Indonesia
Jakarta -

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkap penyebab melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa hari terakhir. Pelemahan rupiah membawa Mata Uang Paman Sam itu mendekati level Rp 17.000/US$.

Perry mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. Selain itu, ada kenaikan permintaan valas oleh korporasi domestik sejalan dengan kegiatan ekonomi.

"Perkembangan nilai tukar terutama dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian pasar keuangan global di tengah meningkatnya permintaan valas korporasi domestik sejalan dengan kenaikan kegiatan ekonomi," kata Perry dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur BI secara virtual, Kamis (19/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

BI mencatat nilai tukar rupiah pada 18 Februari 2026 sebesar Rp 16.880/US$, melemah sekitar 0,56% jika dibandingkan dengan level akhir Januari 2026. Nilai tersebut diakui lebih rendah dibandingkan nilai fundamental yang seharusnya.

ADVERTISEMENT

"BI memandang nilai tukar rupiah telah dinilai rendah atau undervalued dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia, termasuk konsistensi inflasi yang terjaga dalam sasaran 2,5 plus minus 1%" ucap Perry.

Perry memastikan pihaknya akan terus meningkatkan intensitas stabilisasi nilai tukar rupiah. Ke depan, nilai tukar rupiah dipandang akan stabil dan cenderung menguat.

"BI memandang nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat dengan stabilisasi yang terus dilakukan BI, serta didukung kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang tetap baik tercermin pada imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah dan prospek pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat," imbuh Perry.

Simak juga Video 'Pria Bawa Shotgun Ditangkap saat Lari ke Arah Gedung Capitol AS':

(aid/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads