Sesi Siang
Rupiah Kuat, IHSG Lompat
Senin, 01 Okt 2007 12:17 WIB
Jakarta -
Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berkilau di awal Oktober ini. Dana-dana asing terus mengalir meski ancaman inflasi September meningkat.Rupiah pada perdagangan pukul 12.00 WIB, Senin (1/10/2007) menguat 50 poin ke posisi 9.000-an/US$ tepatnya di 9.090 per dolar.Rupiah tercatat baru kembali menguat setelah hampir dua bulan betah di atas level 9.100-an per dolar AS.Menguatnya rupiah seiring dengan masuknya lagi dana-dana asing ke portofolio Indonesia.Sementara IHSG pada penutupan sesi I melonjak 31,538 poin (1,34%) ke posisi 2.390,744 yang dimotori saham sektor telekomunikasi.Indeks LQ-45 naik 8,564 poin (1,72%0 ke level 507.272 dan Jakarta Islamic Index (JII) naik 7,451 poin (1,86%) ke level 407,198.Nilai transaksi mencapai Rp 2,276 triliun dengan volume 2,782 triliun dan frekuensi 30.577 kali.Saham-saham yang melejit harganya di top gainer antara lain, Indosat (ISAT) naik Rp 850 menjadi Rp 8.550, Perusahaan Gas Negara (PGAS) naik Rp 450 menjadi Rp 12.500 dan Telkom (TLKM) naik Rp 350 menjadi Rp 11.350, Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) naik Rp 150 menjadi Rp 6.700 dan Medco Energi Internasional (MEDC) naik Rp 100 menjadi Rp 4.240. Analis saham David Ferdinandus mengatakan, kenaikan IHSG pada perdagangan sesi I masih ditopang masuknya dana asing selain faktor bursa regional yang juga menguat. "Asing masih terus net buy salah satu indikasinya adalah masih menguatnya rupiah," ujarnya. Data-data inflasi yang akan keluar hari ini, diakui David memang diekspektasikan naik. Tapi itu juga tidak terlalu berdampak bagi pergerakan saham-saham untuk tetap merangsek ke zona hijau. Inflasi yang diekspektasikan akan terus meningkat hingga akhir tahun sudah diekspektasi oleh pelaku pasar. "Kemungkinan naiknya inflasi yang datanya dikeluarkan hari ini sudah diekspektasi pelaku pasar, kalaupun diluar ekspektasi kemungkinan akan ada profit taking terbatas di sesi II," ujarnya. Menurutnya, para pelaku pasar juga tetap mencari aman dengan memburu saham-saham blue chips yang relatif stabil. Beberapa pelaku pasar juga mulai melakukan spekulasi dengan membeli saham-saham ritel.
(ir/qom)










































