Ketua Komisi XI DPR, Misbakhun, menyebut demutualisasi memungkinkan negara menggenggam saham Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun ia menegaskan, pembagian porsi saham kepada negara dilakukan untuk kepentingan nasional.
Misbakhun menjelaskan, demutualisasi BEI menjadi salah satu amanat dalam Undang-Undang (UU) tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK). Menurutnya, demutualisasi ini menjadi langkah untuk meningkatkan transparansi dan tata kelola BEI.
"Tentunya kita akan mengatur lebih kuat lagi nanti akan seperti apa demutualisasi itu dan siapa pemegang saham baru Bursa Efek Indonesia. Tentunya kita harus memberikan posisi dan porsi yang memadai untuk negara. Dalam artian apa? Dalam artian untuk kepentingan nasional," ungkap Misbakhun kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: DPR Kaji Skema Demutualisasi Bursa |
Misbakhun menegaskan, campur tangan negara tidak boleh dilakukan secara aktif dan tetap memberikan dampak positif terhadap pasar modal. Selain itu, negara juga tidak perlu hadir untuk memperoleh imbal hasil dari investasi.
"Kepentingan negara tanpa kemudian negara terlibat secara aktif tetapi kemudian negara memberikan dampak pengaruh positifnya. Nah inilah yang harus kita carikan mekanisme dan sistemnya. Negara tentu tidak perlu hadir dalam bentuk mendapatkan imbal balik dalam investasi tetapi negara hadir pengaruhnya untuk menumbuhkan, menggairahkan iklim investasi," imbuhnya.
Adapun saat ini, Komisi XI tengah mengkaji private placement sebagai salah satu skema demutualisasi BEI. Skema ini dimungkinakan lantaran BEI harus melepas sebagian sahamnya setelah melakukan demutualisasi.
Misbakhun mengatakan, demutualisasi ditargetkan rampung secepatnya. Proses demutualisasi ini rencananya akan dilakukan secara paralel dengan pengungkapan penerima manfaat akhir (Unique Beneficial Owner/UBO) dan peningkatan batas free float menjadi 15%.
"Kita ingin paralelkan bersama-sama sehingga dalam waktu yang ada saat ini kita melakukan upaya reformasi bursa saham secepat baik mungkin. Mudah-mudahan (kuartal II)," pungkasnya.
Tonton juga video "Danantara Nimbrung di Pertemuan MSCI-OJK"
(acd/acd)










































