PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) membukukan rugi bersih sepanjang tahun 2025 sebesar US$ 161,9 juta atau Rp 2,7 triliun (kurs Rp 16.949). Rugi bersih ini tercatat imbas merosotnya harga batu bara dunia dan dampak divestasi dua aset Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebesar US$ 97 juta atau sekitar Rp 1,64 triliun.
Segmen pertambangan dan perdagangan batubara TBS Energi Utama tercatat menurun hingga 81% menjadi US$ 194,6 juta atau sekitar Rp 3,29 triliun. Meski begitu, penurunan penjualan batu bara ini bagian dari transisi Perseroan dari batu bata ke portofolio energi berkelanjutan.
"Terkait dengan loss from divestment of subsidy risk ini, specifically dari PLTU, kita memang kita lihat impact-nya cukup besar US$ 96-97 juta, sehingga ini yang memberikan dampak kepada kita menjadi net loss di US$ 161 juta," ungkap Head of Corporate Finance & Investor Relations TOBA, Mirza Rinaldi Hippy di Kantor TBS Energi Utama, Jakarta Selatan, Senin (9/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mirza menjelaskan, EBITDA Disesuaikan tercatat di posisi US$ 47,2 juta atau sekitar Rp 799,64 miliar. Sementara saldo kas berada pada posisi US$ 102,3 juta atau sekitar Rp 1,73 triliun, naik 15% dibanding periode yang sama di tahun 2024.
TBS Energi Utama juga mencatat pendapatan dari segmen pengelolaan limbah sebesar US$ 155,4 juta atau sekitar Rp 2,63 triliun sepanjang tahun 2025. Angka tersebut berkontribusi sebesar 41% dari total pendapatan TBS Energi Utama.
Mirza menambahkan, segmen pengelolaan limbah ditargetkan menjadi kontributor utama pendapatan dan EBITDA TBS Energi Utama bahkan hingga tiga tahun ke depan. Pada segmen ini, TBS Energi Utama telah mengakuisisi Asia Medical Environmental Services (AMES) pada Agustus 2023 dan Sembcorp Environment Pte Ltd atau CORA Environment yang mengelola limbah menjadi energi di Singapura.
"Kontribusi dari waste management terhadap revenue ini sudah cukup baik ya sekitar 41% dan diharapkan nanti ke depannya ini bisa akan menggantikan revenue maupun EBITDA dari bantu barat selama 2-3 tahun ke depan," imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur TBS Energi Utama, Juli Oktarina, mengatakan perseoran menerapkan strategi repositioning pada bisnis 2025 sejalan dengan peta jalan TBS2030 yang terus menunjukkan kemajuan. Hal ini tercermin dari menurunnya emisi karbon melalui divestasi dua unit PLTU yang sebelumnya merepresentasikan sekitar 86% emisi portofolio pembangkit, atau sekitar 1,4 juta ton COβ per tahun berdasarkan profil emisi 2024.
"Keputusan penyesuaian struktural diambil dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang, guna mengakselerasi pertumbuhan pada tiga pilar bisnis masa depan Perseroan - pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik- yang merupakan layanan esensial dengan potensi pertumbuhan yang kuat di Indonesia dan mancanegara," jelasnya.
(ara/ara)










































