Ketua Komisi XI DPR RI, Misbakhun, mengungkap modus pengusaha menghimpun dana melalui penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan tingkat free float yang kecil. Kondisi ini disebut akan membentuk harga saham uang jauh dari kondisi perusahaan.
Ia menjelaskan, pengusaha melakukan IPO ketika bisnisnya masih dalam tahap pengembangan atau belum sepenuhnya stabil. Kemudian saham yang dilepas ke publik bahkan hanya sekitar 5% dari total IPO.
"Seakan-akan bursa saham kita itu digunakan oleh sekelompok masyarakat dan kemudian yang disebut oligarki, sebenarnya mereka pengusaha yang kemudian meng-IPO-kan perusahaan mereka yang sebenarnya belum settle. Masih growth, masih dalam prosesi pengembangan. Masih di-develop. Kemudian dimasukkan ke pasar modal. Hanya dalam share float yang kecil, misalnya 10% atau 12% atau bahkan 5%," ungkap Misbakhun dalam acara Investor Relations Forum, di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Selasa (10/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan porsi saham publik yang kecil, pemilik lama perusahaan masih memegang mayoritas saham, bahkan bisa mencapai sekitar 90%. Menurutnya harga saham di pasar bisa terbentuk pada level tertentu dan mempengaruhi valuasi keseluruhan perusahaan.
Selain itu, perusahaan tercatat itu kemudian melakukan Repurchase Agreement (REPO) atau menjadikan saham sebagai jaminan untuk memperoleh pendanaan dari lembaga keuangan seperti perbankan, investment banking, atau private banking.
"Di sini dia akan me-REPO untuk mendapatkan dana perbankan atau dana dari investment banking atau private banking dan sebagainya. Nah ini yang terjadi. Dipakai untuk membiayai korporasinya yang di-listing? Enggak. Tapi (uangnya) masuk ke group," ujarnya.
Misbakhun menilai praktik seperti ini menjadi salah satu hal yang memunculkan kekhawatiran di kalangan investor. Sebab, sebagian pihak menilai proses pembentukan harga saham bisa dianggap kurang adil.
Ia pun mengingatkan pentingnya menjaga kepercayaan investor. Dalam hal ini, khususnya kepercayaan ritel yang saat ini banyak berasal dari kalangan anak muda.
"Hal-hal yang seperti ini kemudian orang menganggap bahwa pembentukan harga ini tidak fair. Dan orang sudah mulai mengamati dengan detail. Ini nyampe juga ke kita," pungkasnya.
(ahi/ara)










































