Saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) terbang pada pembukaan perdagangan pagi ini, Kamis (26/3). Maskapai plat merah ini menguat hingga nyaris menyentuh Auto Reject Atas (ARA).
Berdasarkan data perdagangan RTI Business pukul 09.35 WIB, saham Garuda menguat 21,92% ke level Rp 89 per lembar. Pada awal pembukaan, saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini bahkan sempat menyentuh harga Rp 96 per lembar.
Pagi ini, volume perdagangan Garuda tercatat sebanyak 769,84 juta dengan nilai transaksi sebesar Rp 71,80 miliar. Sementara frekuensi saham yang diperdagangkan sebanyak 18.510 kali sejak awal pembukaan perdagangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai informasi, Garuda hari ini resmi keluar dari papan pemantauan khusus atau Full Call Auction (FCA). Garuda diketahui masuk dalam papan pemantauan khusus karena memiliki ekuitas negatif pada laporan keuangan terakhir.
Kemudian berdasarkan laporan keuangan tahun 2025, total ekuitas sebesar US$ 91,91 juta atau sekitar Rp 1,5 triliun hingga akhir Desember 2025. Namun begitu, rugi Garuda tercatat membengkak sepanjang tahun 2025.
Rugi Garuda Tembus Rp 5 Triliun
Garuda membukukan rugi bersih sebesar US$ 319,39 juta atau sekitar Rp 5,39 triliun sepanjang tahun 2025. Angka tersebut membengkak dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yakni sebesar US$ 69,77 juta.
Sepanjang 2025, Garuda Indonesia membukukan pendapatan usaha sebesar US$ 3,21 miliar atau sekitar Rp 54,22 triliun dari US$ 3,41 miliar atau sekitar Rp 57,60 triliun di tahun 2024.
Pendapatan usaha Garuda Indonesia ditopang oleh penerbangan berjadwal sebesar US$ 2,14 miliar. Kemudian penerbangan tidak berjadwal sebesar US$ 340,87 juta. Sedangkan pendapatan lain-lain tercatat sebesar US$ 361,05.
Kemudian untuk total beban usaha, Garuda Indonesia mencatat sebesar US$ 3,10 miliar sepanjang tahun 2025. Sebagian besar beban usaha disumbang oleh beban operasional penerbangan yang tercatat sebesar US$ 1,54 miliar.
Selain itu, beban pemeliharaan dan perbaikan juga menyumbang sebesar US$ 661,36 juta. Kemudian beban kebandaraan dan pelayanan penumpang menyumbang terhadap total beban usaha masing-masing sebesar US$ 249,14 juta dan US$ 216,35 juta sepanjang tahun 2025.
Lihat juga Video: Melemahnya Bursa AS Berdampak ke IHSG?











































