Euro Tak Terkendali, Pebisnis Eropa Minta Intervensi Politik
Jumat, 19 Okt 2007 09:24 WIB
New York - Euro terus mencetak rekor tertingginya atas dolar AS. Mata uang negara paman sam tersebut terus mendapat tekanan jual menjelang pertemuan G7 dan ekspektasi akan diturunkannya suku bunga ditengah melambatnya perekonomian AS.Pada perdagangan Kamis (18/10/2007) di New York, euro menguat ke level 1,4296 dolar, naik dibandingkan sebelumnya di level 1,4207 dolar. Euro mencatat rekor tertingginya di 1,4283 dolar pada 1 Oktober. Dolar AS juga melemah atas yen ke posisi 115,62, dibandingkan sebelumnya di level 116,57 yen. Sementara pada perdagangan Jumat (19/20/2007), rupiah dibuka masih stabil pada level 9.080/9.090 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.090 per dolar AS. Perdagangan masih sepi mengingat belum seluruh bank dan BI aktif setelah libur panjang.Pelaku pasar mulai melakukan antisipasi penurunan suku bunga oleh Bank Sentral AS (The Fed) yang kembali akan menggelar pertemuan pada 30 Oktober mendatang. Jika suku bunga AS kembali diturunkan, maka dolar AS dipandang semakin tak menarik lagi. Penguatan euro secara tajam itu membuat para pebisnis Eropa khawatir. Mereka bahkan meminta intervensi secara politik untuk meredam penguatan euro."Kami meminta intervensi politik pada level pemimpin dunia untuk mengatasi euro," ujar pimpinan pebisnis Eropa, Ernest-Antoine Seilliere seperti dikutip dari AFP.
(qom/ir)











































