G7 Serukan Fleksibilitas Yuan, Tak Singgung Pelemahan Dolar
Sabtu, 20 Okt 2007 11:09 WIB
Washington - Negara-negara maju yang tergabung dalam G7 kembali menyerukan masalah fleksibilitas yuan. Sayangnya, G7 malah 'lupa' membahas soal pelemahan dolar yang kian mengkhawatirkan."Kami menyambut baik keputusan China untuk meningkatkan fleksibilitas mata uangnya. Namun seiring meningkatnya surplus neraca berjalan dan inflasi domestik, kami menekankan bahwa China perlu mempercepat apresiasi mata uangnya," ujar G7 dalam pernyataannya setelah pertemuan sehari seperti dikutip dari AFP, Sabtu (20/10/2007).China beberapa kali mendapat desakan agar lebih mendorong fleksibilitas mata uangnya. Posisi yuan saat ini dinilai masih terlalu rendah, dan menguntungkan posisi pengusaha China.Sayangnya, hal serupa tidak diserukan oleh G7 terkait pelemahan dolar AS terhadap euro. Padahal para pebisnis Eropa sudah sangat khawatir atas penguatan euro yang terlalu tajam.Bahkan pada perdagangan kemarin, euro kembali meroket ke level tertingginya di 1,4319 dolar. Para pebisnis Eropa khawatir hal itu bisa mengganggu pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut. Karenanya, mereka minta adanya sebuah intervensi politik di tingkat pemimpin dunia.Namun G7 hanya menyatakan bahwa pergerakan suatu mata uang seharusnya merefleksikan fundamental ekonomi, tanpa memfokuskan pernyataan pada dolar AS."Kami kembali menyatakan bahwa mata uang harus merefleksikan fundamental ekonomi," jelas G7 dalam pernyataannya.Menteri keuangan AS Henry Paulson menyatakan bahwa penguatan dolar adalah merupakan keinginan negaranya."Saya percaya bahwa dolar yang kuat adalah keinginan kami dan percaya bahwa nilai mata uang seharusnya dihitung berdasarkan fundamental ekonomi dalam pasar yang kompetitif," ujar Paulson.Negara-negara G7 beranggotakan Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang dan AS.
(qom/qom)











































