OJK Buka-bukaan MSCI dan Perang AS-Iran Tekan Pasar Modal RI

OJK Buka-bukaan MSCI dan Perang AS-Iran Tekan Pasar Modal RI

Andi Hidayat - detikFinance
Senin, 06 Apr 2026 15:02 WIB
Karyawan mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/1/2026). BEI menghentikan sementara perdagangan (trading halt) pada pukul 13.43 waktu Jakarta Automated Trading System (JA
Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Jakarta -

Pasar modal Indonesia diterpa isu transparansi menyusul peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI) di akhir bulan Januari lalu. Peringatan ini meningkatkan kekhawatiran investor terhadap pasar modal yang tercermin dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun tak lama setelah menyentuh level 9.000 pada pertengahan bulan Januari 2026.

MSCI sendiri diketahui memberikan waktu hingga awal Mei untuk otoritas pasar modal RI membenahi isu tersebut. Namun dalam prosesnya, IHSG diketahui mengalami sejumlah tekanan baik dari penyedia indeks saham global maupun gejolak geopolitik di Timur Tengah.

Meski begitu, pasar modal Indonesia tercatat masih mampu bertahan di tengah tekanan-tekanan tersebut. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) juga telah mengajukan empat proposal untk mengembalikan kepercayaan investor imbas isu transparansi MSCI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, sebelumnya menyebut telah memberikan empat proposal reformasi pasar modal ke sejumlah penyedia indeks saham global, seperti MSCI dan FTSE Russell. Keempat proposal tersebut, mencakup pengungkapan data kepemilikan saham di atas 1%, memperluas klasifikasi investor menjadi 39 kategori, meningkatkan batas minimum free float menjadi 15%, dan pengungkapan high shareholding concentration (HSC).

ADVERTISEMENT

"Informasi tambahan yang penting, yang boleh jadi dimanfaatkan sebagai early warning bagi para investor untuk mengambil keputusan. Jadi ini bukan karena pelanggaran tertentu tapi akan terbuka informasi untuk daftar saham-saham yang memang terkonfirmasi mengalami konsentrasi yang tinggi atau kepemilikan yang terbatas dimiliki oleh hanya sedikit pihak," ungkap Hasan dalam konferensi persnya di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (2/4/2026) lalu.

Namun begitu, sejumlah keterbukaan informasi tambahan ini belum mampu mendorong IHSG kembali ke level semuanya di awal tahun. Berdasarkan data perdagangan RTI Business hari ini, Senin (6/4/2026), IHSG diketahui melemah 0,49% ke level 6.992,55 pukul 14.00 WIB.

Hasan sebelumnya juga menyebut koreksi terhadap IHSG terjadi akibat sentimen geopolitik di Timur Tengah. Ia mengatakan, kondisi Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran investor akibat terganggunya pasokan dan kenaikan harga energi.

Hasan mengatakan, persentase penurunan IHSG paling besar terjadi sepanjang bulan Maret kemarin. Namun ia menegaskan, pelemahan IHSG terjadi karena kondisi domestik dan akumulasi sentimen geopolitik menyusul terbatasnya ruang pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal.

"Ini tidak terlepas dan seiring dengan eskalasi ketegangan geopolitik, terutama di kawasan Timur Tengah yang menuju disrupsi pasokan energi dan menimbulkan kenaikan harga energi secara global. Dampaknya langsung diterasakan di pasar modal kita," ungkap Hasan dalam acara Sosialisasi Capaian Reformasi Transparansi Pasar Modal di Main Hall BEI.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, juga tak menampik dampak geopolitik terhadap industri sektor jasa keuangan. Menurutnya, perlu ada langkah antisipatif pada potensi kenaikan risiko yang terjadi karena kondisi geopolitik.

Seluruh lembaga jasa keuangan juga diminta untuk melakukan penguatan manajemen resiko. Kendati demikian, perempuan yang akrab disapa Kiki ini menyebut kinerja sektor jasa keuangan masih terpantau stabil dengan arus permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, dan resiko keuangan yang terjaga.

"Sebagai langkah antisipatif atas potensi kenaikan resiko, kami mendorong lembaga jasa keuangan untuk melakukan asesmen lanjutan secara forward looking dan memperkuat manajemen resiko, kemudian juga mencermati secara intensif kinerja debitur, serta menjaga kecukupan likuiditas dan juga permodalan," sebut Kiki dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan, Senin (6/4/2026).

Lantas, mampukah pasar modal RI bangkit di tengah tekanan tersebut? Lewat acara Outlook Indonesia: Peran Penggerak Ekonomi Nasional upaya untuk membangkitkan pasar modal Indonesia akan diulas.

Forum ini mempertemukan pemangku kepentingan, mulai dari regulator, legislator, hingga pelaku pasar untuk menyelaraskan langkah mengenai strategi penguatan fiskal, stabilitas sistem keuangan, percepatan investasi, serta pengembangan sektor-sektor penggerak pertumbuhan nasional.

Acara ini digelar di Menara Bank Mega pada Selasa, 7 April 2026 dan dihadiri sejumlah narasumber antara lain Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun, CIO Danantara Pandu Sjahrir, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi hingga Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu.

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads