Saham BBCA Lagi Diskon Besar di 2026, Ini Prediksi Analis

Saham BBCA Lagi Diskon Besar di 2026, Ini Prediksi Analis

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Rabu, 08 Apr 2026 17:16 WIB
Ilustrasi grafik saham dalam latar belakang hitam dan bola dunia
Foto: detik
Jakarta -

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat melemah sejak awal tahun 2026. Hingga 7 April 2026, saham BBCA turun sekitar 19%.

Pada perdagangan Rabu (8/4), harga saham BBCA berada di bawah level Rp 7.000 per lembar. Pelemahan ini sejalan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga turun 15,79% secara year to date (YTD).

Di tengah penurunan harga saham, kinerja keuangan BBCA tetap tumbuh. Sepanjang 2025, BBCA mencatat laba bersih Rp 57,5 triliun, naik 4,9% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 54,8 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Analis pasar modal Rendy Yefta menilai penurunan harga saham BBCA saat ini tidak mencerminkan fundamental perusahaan yang masih kuat. Menurutnya, kondisi ini tergolong jarang terjadi untuk saham perbankan besar.

Ia menyebut BBCA memiliki dana murah (CASA) yang kuat, efisiensi operasional, serta basis nasabah yang loyal. Hal ini menopang kinerja perusahaan secara berkelanjutan.

ADVERTISEMENT

"Ini adalah fenomena undervalued yang sangat langka untuk saham sekelas kasta tertinggi (blue chip super). Mengambil BBCA di harga di bawah Rp7.000 ibarat Anda memungut Mercy di showroom dengan harga Avanza," katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (8/4/2026).

Rendy menilai kondisi ini bisa menjadi peluang bagi investor. Ia memperkirakan harga saham BBCA berpotensi kembali menguat saat tekanan pasar mereda.

Menurutnya, secara historis saham BBCA diperdagangkan pada rasio price to book value (PBV) di kisaran 4-5 kali. Namun, tekanan dari pasar global dan rotasi sektor membuat valuasi saham ini turun.

Ia memperkirakan, ketika kondisi pasar membaik, harga saham BBCA akan kembali menuju valuasi normalnya.

Investor juga diminta mencermati kinerja BBCA pada kuartal I 2026 yang akan segera dirilis. Laporan keuangan tersebut dinilai dapat menjadi sentimen bagi pergerakan saham ke depan.

"Orang bijak mengumpulkan emas saat harganya sedang jatuh ke lumpur, bukan saat semua orang sedang antre membelinya di toko," katanya.

(fdl/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads