Saham-saham 'Baru' Batubara Kok Masih Tiarap

Saham-saham 'Baru' Batubara Kok Masih Tiarap

- detikFinance
Kamis, 25 Okt 2007 10:05 WIB
Jakarta - Sejumlah emiten kecil pindah ke bisnis batubara dalam satu tahun terakhirseiring naiknya harga komoditas tambang itu. Namun para pemain baru di batubara itu belum terdengar 'kicaunya'.Yang jelas, bisnis lama ditinggalkan karena emiten yang berganti bajuitu melihat peluang bisnis di sektor batubara.Terlebih dalam proyek crash program listrik 10.000 ribu mega watt, pemerintah juga menggalakkan pemakaian batubara.Alhasil emiten yang tidak sukses dengan bisnis sebelumnya berbondong-bondong membidik usaha batubara meski dalam skala yang kecil demi menyelamatkan kelangsungan usahanya. Umumnya mereka mengincar tambang-tambang batubara di kawasan Kalimantan.Terdapat sekitar lima emiten yang pindah jalur ke bisnis batubara yang jauh berbeda dari bisnis sebelumnya di usaha garmen, tekstil, kayu, properti, perikanan dan furniture. Biasanya emiten ini mengubah nama perusahaan begitu masuk ke bisnis batubara.Seperti PT Hanson International Tbk (MYRX) yang sebelum masuk ke bisnisbatubara adalah perusahaan tesktil dan garmen dengan nama usaha PTHanson Industri Utama Tbk. Hanson memasuki bisnis energi melalui perusahaan afiliasinya PT HansonEnergy.Saat ini PT Hanson Energy memiliki beberapa konsesi tambang batubara di daerah Sumatra Selatan dengan luas 30.000 Ha. Lokasi itu berada di Martapura seluas 10.000 Ha dan Baturaja seluas 20.000 Ha.PT Dayaindo Resources International Tbk (KARK) sebelum masuk ke sektor sumber daya alam, energi, dan infrastruktur adalah perusahaan properti dengan nama PT Karka Yasa Profilia Tbk.Dayaindo akan berinvestasi batubara di Tanah Bambu, Kalimantan Selatan dan Kutai Barat, Kalimantan Timur dan bekerja sama dengan beberapa pemilik kuasa pertambangan di kedua kawasan tersebut.Target volume perdagangan di kedua kawasan itu untuk tahun 2007 sebesar 125 ribu metrik ton batubara kalori rendah per bulan. Rinciannya, 50 ribu metrik ton diperoleh dari aktivitas pertambangan dan 75 ribu metrik ton dari perdagangan.Target produksi di Kalimantan Selatan untuk triwulan keempat 2007 sebesar 100 ribu metrik ton per bulan. Sementara itu, target produksi di Kalimantan Timur untuk triwulan kedua 2008 juga sebesar 100 ribu metrik ton per bulan.PT ATPK Resources Tbk (ATPK), sebelum mencebur ke batubara adalah perusahaan berbasis perikanan dengan nama PT Anugerah Tambak Perkasindo Tbk. ATPK Resources memiliki ladang batubara di Bengalon Kutai Timur Kalimantan Timur dengan luas total 150 ribu hektar are.ATPK Resources berencana mengakuisisi tiga tambang batubara dalam tiga tahun mendatang.PT Resources Alam Indonesia Tbk (KKGI) juga mencemplungkan diri ke bisnis batubara. Sebelumnya perseroan berkecimpung di bisnis kayu dengan nama PT Kurnia Kapuas Utama Tbk.PT Resources Alam Indonesia Tbk melalui anak usahanya PT Insani Baraperkasa kini tengah melakukan eksplorasi batubara di Kalimantan Timur.Sedangkan PT Central Korporindo International Tbk (CNKO) dari awal memangfokus ke batubara. Namun kini sedang tidak melakukan eksplorasi batubara di Asam-asam Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan karena tengah menyelesaikan proyek listrik PLTU di Pangkalan Bun Kalimantan Tengah, dan di Rengat dan Tembilahan Riau.Sementara PT Cita Mineral Investindo (CITA), sebelum terjun ke bauksit adalah emiten yang bergerak di industri furniture dengan nama PT Cipta Panelutama Tbk.CITA melalui anak usahanya PT Harita Prima Abadi Mineral memiliki 4 kuasa pertambangan yakni Blok Pering Kunyit/Air Kupas, Simpang Dua, Sandai, dan Simpang Hulu yang total memiliki luas 224.475 hektar are yang berlokasi di Kalimantan. Perusahaan mengaku sampai saat ini terus melakukan eksplorasi dengan biaya yang sudah dikeluarkan Rp 2,805 miliar.Bagaimana geliat saham tersebut setelah pindah ke batubara dan bauksit. Yang pasti, baik Hanson, Dayaindo, ATPK Resources, Resources Alam Indonesia, Central Korporindo, Cita Mineral Investindo kini belum menunjukkan hasil optimal atas eksplorasinya.Saham-saham yang tercatat di papan pengembangan Bursa Efek Jakarta (BEJ) itu pun belum terlalu lincah bergerak dan cenderung stagnan.Saham Hanson dengan kode perdagangan MYRX pada perdagangan sesi I pukul 09.50 JATS, Kamis (25/10/2007) naik Rp 2 (2,08%) ke posisi Rp 98 per saham.Saham Dayaindo dengan kode perdagangan KARK naik Rp 5 (1,32%) ke posisi Rp 385 per saham.Saham ATPK Resources dengan kode perdagangan ATPK stagnan di level Rp 1.050 per saham.Saham Resources Alam Indonesia dengan kode perdagangan KKGI stagnan di level Rp 400 per saham. Saham Central Korporindo dengan kode perdagangan CNKO stagnan di level Rp 116 per saham.Saham Cita Mineral Investindo dengan kode perdagangan CITA stagnan di level Rp 750 per saham.Saham-saham kecil batubara itu nampaknya belum bisa mengekor pemain raksasa batubara di BEJ seperti PT Bumi Resources Tbk, PT Tambang Batubara Bukit Asam atau pendatang baru PT Darma Henwa. Saham-saham ini justru menikmati limpahan tingginya harga minyak dunia yang ikut mengerek harga batubara. (ir/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads