Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap rupiah hingga sempat menembus level Rp 17.300. Penguatan mata uang Paman Sam terhadap rupiah terjadi karena berbagai faktor.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) Bank Indonesia (BI), Juli Budi Winantya mengatakan, kondisi ekonomi global belakangan ini diwarnai perang AS-Iran yang diperkirakan berlangsung lama. Dampak dari perang AS-Iran tersebut sudah dirasakan, seperti naiknya harga minyak dunia hingga pangan karena terjadi gangguan produksi dan distribusi.
"Kondisi ekonomi global banyak diwarnai perang. Banyak pihak, pelaku pasar memperkirakan perang lebih lama, yang sudah kita lihat dampaknya kenaikan harga minyak karena gangguan produksi dan distribusi, dan ini diikuti oleh kenaikan harga komoditas lain baik itu gas, kemudian juga non-energi lainnya ada pangan sudah cenderung meningkat," kata Juli mengawali penjelasan dalam FGD Bank Indonesia di Bandung, Jumat (24/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekonomi Global
Gangguan distribusi akibat perang AS-Iran juga membuat perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia dipangkas dari 3,1% menjadi 3%. Pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan lebih rendah juga diikuti dengan proyeksi inflasi yang lebih tinggi mencapai 4,2% dibandingkan perkiraan sebelumnya 4,1%.
"Dengan pertumbuhan ekonomi lebih rendah, inflasi lebih tinggi, ruang pelonggaran kebijakan moneter global bank sentral secara global menjadi lebih terbatas. Khusus The Fed, Fed Fund Rate (FFR) mungkin turun, tapi lebih lambat dibandingkan prakiraan kita. Bahkan ada kemungkinan hingga akhir tahun stay, tidak berubah," ujar Juli.
Terkait perang AS-Iran, negeri Paman Sam akan menggelontorkan belanja lebih besar sehingga membuat defisit fiskal lebih besar dan membuat imbal hasil (yield) obligasi meningkat. Meningkatnya imbal hasil surat utang AS membuat pergerakan arus modal dari negara berkembang dan maju beralih ke AS.
"Attractiveness dari investasi aset keuangan US lebih meningkat. Apresiasi dolar AS ini terjadi, sehingga dia menguat relatif terhadap hampir semua mata uang negara di dunia," tutur Juli.
Ekonomi Domestik
Terkait kondisi ekonomi dalam negeri, Juli mengatakan, pertumbuhan masih diperkirakan 4,9-5,7% dengan dukungan stimulus fiskal dan moneter serta bauran kebijakan BI untuk mencapai target tersebut. Sedangkan, inflasi diperkirakan 2,5% plus minus 1%.
"Kita prakirakan pertumbuhan ekonomi masih di 4,9-5,7% di tahun ini, dan ini tentunya ada dukungan dari stimulus fiskal maupun kebijakan moneter dan bauran kebijakan BI untuk bisa mencapai kisaran 4,9-5,7%. Inflasi kisaran target 2,5% dengan deviasi 1%," kata Juli.
Juli melanjutkan, posisi cadangan devisa (cadev) per Maret sebesar US$ 148,2 miliar, turun dibandingkan dengan posisi akhir Februari 2026 sebesar US$ 151,9 miliar. BI juga melakukan intervensi nilai tukar rupiah di tengah penguatan dolar AS.
"Cadangan devisa per Maret tercatat masih tinggi, US$ 148,2 miliar. Nilai tukar relatif stabil, cukup terjaga. Ada faktor kebijakan, intensitas BI dalam intervensi semakin kuat, didukung tidak hanya di spot tapi di forward baik dalam negeri dan luar negeri dan kebijakan terkait transaksi valas akan kita lakukan sebagai bentuk komitmen BI menjaga stabilitas," ujarnya.
(ara/fdl)










































